(fanfic) Bestfriend

Bestfriend

Author: Han Yoorim

Cast:

-Choi Sulli f(x)

-Im Yoona snsd

-Choi Minho

Genre: Friendship, Sadness, Life, Fluuf, Angst

Length: Oneshot, Short Story

Rating: Semua umur boleh baca ^^

Hal yang indah yang ada di dunia ini, PERSAHABATAN. Benar bukan?

Persahabatan yang aku rasakan sangatlah indah. Aku mengenalnya beberapa tahun lalu di taman ini, taman yang penuh dengan bunga matahari, bunga kesukaanku dan dia. Saat itu dimana saat aku ingin mengakhiri hidupku. Tapi sosoknya membuatku sadar, dunia yang kulalui baru sedikit, banyak hal yang belum aku ketahui dan belum aku rasakan. Beruntungnya, hari ini aku merasakan makna kata darinya saat itu, aku mengerti betul alasan aku ada di sini sekarang dan tidak meninggalkan dunia, karena aku mulai merasakan yang namanya indah nya kehidupan di balik kepedihan hidupku. Langit sore yang terbentang indah saat ini membuatku menyunggingkan senyumanku, aku bahkan akan menunggunya hingga pulang dari sekolahnya. Sesore apapun, aku akan tetap di sini, menyambut sahabatku dengan seuntai senyuman di bibirku.

“Choi Sulli”

Seseorang memanggilku. Suara yang sangat tak asing di telingaku. Aku menoleh beralih dari bunga matahari yang sejak tadi ku lihat, wajahnya terlihat lelah, tapi tidak menghilangkan senyuman yang selalu menghiasi bibir itu. Aku ikut tersenyum, kemudian berlari ke arahnya,

“aku lama ya?” Tanya nya yang masih memakai seragam sekolahnya.

“ani,” jawabku.

“temani aku makan mau? Aku traktir deh” katanya girang. Aku mengangguk setuju.

Di pinggiran kota Seoul, aku dan Yoona sahabatku, sibuk mencari toko makanan yang murah dan enak. Di sepanjang jalan Yoona mengamati langit senja yang begitu indah. Matanya terlihat takjub melihat matahari yang mulai menenggelamkan dirinya. Yoona memang selalu terpukau dengan apa yang dia lihat, padahal hal yang di lihatnya bukan sesuatu yang sangat spesial. Tapi itulah Yoona, dia selalu bersyukur atas segala yang tuhan berikan, dia benar benar gadis yang perfect di mataku. Wajahnya yang cantik dan sikapnya yang baik di sukai banyak orang, aku adalah orang yang beruntung karena telah mengenalnya.

“Sulli-ah? Kita makan di sini ya,” kata nya tiba tiba membuyarkan lamunanku.

“ah, ne,” aku tersenyum ke arahnya kemudian kita memesan makanan. Yoona menceritakan kejadian di sekolahnya, aku terbawa suasana dan ikut larut dalam pembicaraannya. Aku pun ikut menceritakan hal yang ku alami. Walaupun hal yang ku alami tidak banyak dan tidak terlalu menarik, tapi Yoona senantiasa mendengarkannya. Bahkan hal sepele pun membuatnya tertawa bahagia. Sampai akhirnya pesanan datang pun kita masih tetap mengobrol.

“sudah sampai depan rumahmu Yoona,” kataku

“ah iya! Tak terasa ya. Haha” katanya tertawa lebar. “okedeh, besok kita bertemu lagi ya. Di tempat biasa. Kalau kau tak ada disitu saat aku pulang, aku ga akan mentraktirmu lagi,” candanya.

Aku tersenyum, “tenang aku akan disana bahkan sebelum kau pulang,” jawabku yakin, “nah, Im Yoona, masuklah. Appa mu pasti mencemaskanmu,” tambahku lagi.

“ne. Kau juga harus pulang!! Oppamu pasti mencemaskanmu!!!! kamsahamnida untuk hari ini!!  See ya Sulli-ah!!!” teriaknya sambil melambaikan tangan nya ke arahku yang sudah beranjak pergi. Aku tersenyum dan membalas lambaian tangannya.

Kemudian aku berlari kencang menjauh dari rumahnya. Setelah cukup jauh aku berhenti dari lariku, rasanya nafasku sangat berat, “hah hah hah…” aku ngos-ngosan setelah berlari. Aku memandang langit dan mengangkat kedua tanganku ke atas, aku mengatakan sebuah janji ku dalam hati. Aku memejamkan kedua mataku, aku menghirup udara dalam dalam. Selama aku bisa, aku akan melakukan hal yang ku mau, itulah aku.

Aku berjanji di bawah langit yang mulai terlihat gelap. Semua benda yang ada menyaksikan satu janjiku. Meski saksi bisu, aku yakin, semua mengerti perasaan ku saat ini. Aku percaya, tak hanya manusia yang memiliki perasaan.

Ddrrrrtt ddddrrrtttt

Tiba tiba ponselku bergetar, aku melihat jelas nama yang tertera dalam ponselku, Minho Oppa. dan aku langsung mengangkatnya,

“yeobseo?” kataku.

“ye, yeobseo, saeng. Kamu dimana ? kamu ga melakukan hal yang aneh anehkan ? aku akan menjemputmu.” Jawab suara di seberang sana.

“ne, gwenchana oppa. Aku ada di taman Oniwa.”

“oh, ye, oppa akan segera menjemputmu. Tunggulah,” minho oppa kemudian menutup telfonnya.

Aku duduk di bangku taman. Saat itu tak ada seorangpun disana, karena malam yang telah tiba. Aku memandang langit. Ku pandangi bintang yang mulai menampakkan sinarnya.

“Sulli”

Terdengar seseorang memanggilku, aku menoleh,

“bisa ku titip Raera di sini? Aku ingin membeli makanan. Kalau Raera ikut takut merepotkan, tak apa kan?” Tanya ahjumma di hadapanku yang merupakan tetanggaku.

“ah ne ahjumma,” kataku seraya tersenyum.

Kemudian ahjumma pergi meninggalkanku bersama perempuan kecil itu, Raera.

“eonni, bintang sangat indah ya. Aku ingin deh suatu saat ambil satu bintang,” kata Raera polos. Raera baru kelas satu SD, maklum saja terlalu polos.

“aku juga mau,” kataku.

“ya! Apa eonni tau, sesuatu yang lebih indah dari bintang?” tanyanya sambil menunjuk bintang yang paling terang.

“eonni tau,” jawabku sambil tersenyum.

Raera menoleh, “benarkah? Apa?” tanyanya penasaran.

Aku menyunggingkan senyuman lagi, “perasaan sayang dalam persahabatan”

Sebelum Raera sempat bertanya lagi padaku, eomma nya datang dan dia segera berlalu pergi. Aku yang merasakan dinginnya saat itu merapatkan jaketku. Aku merogoh kantung jaketku untuk mencari ponsel, mungkin saja Minho oppa sms aku. Saat aku lihat, Yoona megirimkan pesan padaku,

FROM: Yoona

ya!!!! Sulli-ah ~~~ bagaimana? Sudah sampai rumah? Pasti oppa mu yang tampan mencemaskanmu ya😀 segera istirahat!! Karena besok kita akan bertemu lagi ^^ bye bye.

Aku baru sadar air mataku terjatuh di pipiku. Tiba tiba seseorang duduk di sebelahku, memelukku dalam dekapan hangatnya,

“berhentilah menangis. Sampai kapan kau ingin menjadi Sulli yang cengeng ?”

Kata kata nya seakan merasukiku, aku memang sangat cengeng, “oppa………” kataku tersedu sedu. Minho oppa mendekapku makin dalam hingga aku tertidur dalam dekapannya.

Dua alasan cukup untukku. Asal ada alasan itu aku mampu melanjutkan hari. Tersenyumlah maka aku akan turut tersenyum. Tapi jangan pernah menangis di hadapanku, karena aku tak akan mampu.

Hari ini aku menemui Yoona di sebuah taman tempat kami biasa bertemu. Aku senang sekali melihat sosoknya, senyuman yang selalu terpancar membuatku iri padanya. Semua yang ada pada dirinya memang terlihat sangat sempurna. Sangat jauh dengan diriku. Aku sangat cengeng, sedang Yoona, menangis saja tak pernah, benar benar hebat. Dia menghampiriku kemudian memelukku,

“Sulli-ya”

Aku tersentak kaget saat Yoona memelukku, tentu ini yang pertama kalinya,

“Yoona? Gwenchanayo?” aku bertanya padanya, aku sangat khawatir karena sikap Yoona kali ini aneh. Namun tak ada balasan,

“Tadaaaaaaa gwenchana Sulli-ah, tenang saja!” katanya seraya melemparkan senyuman manisnya ke arahku.

Aku tahu kamu, berhentilah bersikap seperti ini. Sampai kapan kau ingin menutupi kebohongan terhadapku? Aku menyanyangimu, apa kau tak percaya padaku?

Malam ini hujan turun sangat deras, entah kenapa aku berfirasat sangat buruk,

“oppa…. Aku berfirasat buruk” kataku sedikit ragu.

Minho oppa yang tadi asik main laptop kini memandangku, “mwo? Ah dongsaeng, jangan bilang begitu!! Aku tidak ingin ada masalah lagi” Minho oppa sedikit membentak.

“ani, mianhae oppa. Ini hanya firasat.” Kataku memelas.

“ne, ne”

Minho oppa kembali bermain dengan laptopnya. Aku memandang langit dari kaca jendela masih dengan perasaan buruk.  Aku mengambil ponselku dari kamar, aku melihat 21 misscall dan 10 sms. Aku segera melihat siapa yang menelefonku, dan ternyata, Im Yoona.

‘waeyo?’ Tanya ku pada diri sendiri panik.

Dan segera melihat 10 sms itu,

From: Yoona

Mianhae menganggumu malam malam. Tapi bisakah aku bertemu denganmu? Sekarang, Di tempat biasa. Aku akan menunggumu. Jangan telat ya😉

Aku melihat isi sms yang lain, dan ternyata sama, aku melihat waktu pesan itu sampai, kira kira setengah jam lalu. Aku segera pergi ke taman itu,

‘maaf Yoona, aku telat,’ batinku.

Aku pamit kepada Minho oppa dan kemudian segera berlari ke taman, tak lupa memakai payung karena hujan yang lebat. Setelah sampai, aku mencari Yoona dan aku menemukannya. OMO dia berdiri mematung sambil melihat bunga matahari. Persis sekali seperti kejadian beberapa bulan lalu, pertemuanku dengannya. Aku dapat melihat tubuhnya kedinginan tanpa payung. Aku berjalan mendekatinya.

“Yoona,” kataku.

Dia membalikkan badannya dan melihatku, “Sulli-ya…” dia memelukku. Aku dapat merasakan tangisan nya. Aku membalas memeluknya. Aku melempar payungku, sehingga kini kami sama sama basah di guyur hujan.

Satu satunya alasanku hidup kini menangis di depanku. Apa yang kamu rasakan? Bukankah kau orang yang sangat tegar? Berhentilah…. Karena aku tak mampu melihat semua ini.

Aku ikut menangis di pelukannya. Wajah Yoona sangat pucat yang membuatku kasihan melihatnya yang kedinginan,

“Yoona, gwenchana? Ada apa?” tanyaku di isak tangisku.

Yoona menghapus air matanya, “ne, gwenchana” jawabnya berusaha riang. “hey kau menangis?” lanjutnya.

Aku nyengir di hadapannya, Yoona sedikit mendorongku, “paboya! Apa yang kamu tangisi?” candanya.

Aku menggeleng, Yoona hanya tertawa.

“mau cerita?” tanyaku pada Yoona.

Yoona menggeleng cepat, “ani. Aku sudah tenang sekarang. Pulanglah!”

Aku menoleh kearah Yoona, kaget, “mwo? Pulang?”

“ye! Kalau tidak kau bisa sakit dan oppa mu akan mencemaskanku. Aku juga akan pulang kok tenang saja!!”

Aku mengangguk mengerti, kemudian kita berpisah di tempat itu, tapi aku tau Yoona masih di sana.

Di balik kata kata mu yang tegas, aku dapat merasakan rasa sakit yang kamu rasakan walaupun aku tidak tahu kamu kenapa. Satu untukmu, Tak bisakah kau mempercayaiku?

Pagi ini hujan masih terlihat di Seoul. Karena hari ini hari Minggu, aku memutuskan untuk bertemu dengan Yoona. Sebelum aku sampai ke rumah Yoona, aku melihat ada pesan dari Yoona yang di kirim kemarin malam jam 1 pagi. Aku melihat isi pesan itu,

From: Yoona

Annyeonghasseo chingu ^^ kamsahamnida untuk tadi malam karena menemaniku menangis hehe. Sungguh aku tak apa ^o^ aku juga mau bilang makasih untuk sebelumnya, karena kamu adalah satu satunya sahabat yang setia padaku. Aku ingat bagaimana pertemuan pertama kita, saat itu aku melihat mu yang sedang menangis dan segera menghampirimu J aku bahagia sudah mengenalmu. Setelah ini belajarlah dariku untuk bisa menyembunyikan perasaan!! karena kalau kamu menangis itu akan membuat orang-orang khawatir termasuk aku. Setelah ini aku ingin kamu menjaga dirimu dengan baik baik ya~ dan tolong nyatakan perasaanku pada oppa mu yang tampan itu hehe. Sebelumnya mianhae dan gamsahamnida ^^

Aku merasakan ada yang berbeda. Pesan ini seperti bukan pesan biasa dan aku berfirasat buruk. Aku langsung berlari ke arah rumah  Yoona. Dan firasat itu benar. Air mataku mengalir begitu saja, melihat kerumunan orang berpakaian hitam di rumah Yoona. Aku menahan nafasku dan aku melihatnya, sosoknya yang tertidur di hadapanku. Wajah itu, wajah yang tak akan aku lihat lagi. Aku membenci kenyataan itu. Aku menangis tambah histeris.

Im Yoona sahabatku, apa yang harus aku katakan? Mianhae, mungkin aku tidak akan bisa menjadi dirimu. Karena ku rasa aku akan menangis terus. Dan lagi, apakah kau lupa beberapa bulan yang lalu? Kau yang menyadarkanku, langit yang masih terbentang luas dan kehidupan baru di jalani setengahnya. Ingatkah kamu? Atau itu sebenarnya untuk dirimu sendiri?

Aku masih menangis, aku berteriak dalam hati menyerukan namamu. Samar samar aku mendengar perkataan tamu yang tiba,

“Im Yoona bunuh diri kan?………..”

“katanya memang dari dulu orang tuanya keras”

“tak terlihat dari wajahnya yang ceria ya,”

“pernah lho Yoona hampir bunuh diri tapi ketauan Appanya”

“katanya Yoona sering di siksa?”

“Yoona di sekolah juga tak punya teman”

“kasihan yaaa”

Janjiku tehadap langit hancurlah sudah….

Apa ini namanya sahabat? Bahkan aku tak tahu kamu sama sekali. Tapi akhirnya aku tau, satu yang kamu sembunyikan lagi. Kalau dari awal aku tau, bukankah kau bisa mengajakku pergi bersama? Ya. Memang itu terlambat.

THE END

About Han

My world and days. People beside me. Precious family. You. That's I loved. JYH's ♥

Posted on December 16, 2010, in fanfic and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: