(fanfic) Pain x End x Goodbye

Pain x End x Goodbye

Author: Kang So byung ^^

Cast:

-Im Yoona (snsd)

-Choi Minho (SHINee)

-SeoHyun (snsd)

-Kwon Yuri (snsd)

Length: Short Story, One-Shot

Genre: Romance, Horror (ngasal -,-), Tragedy, ga tau lagi :3

Rating: 15 (sesuai umurku :D)

Oke happy reading ^o^ ……..

Aku seorang gadis keturunan darah biru. Namaku Im Yoona. Aku memiliki adik yang di angkat dari anak teman Ayahku, orang tua dari adikku sekarang itu telah meninggal dunia. Makanya Ayah mengangkatnya sebagai anak. Adikku berusia 8tahun, duduk di bangku 3 SD. Namanya Yuhi. Aku tidak terlalu akrab dengannya, dia tidak pernah berbicara padaku, Yuhi hanya berbicara saat di tanya.

Kehidupan masa remaja ku memang normal seperti yang lain, aku memiliki seorang kekasih yang sangat baik hati, Choi Minho. Aku juga memiliki dua sahabat, Yuri dan Seohyun. Kami sering menghabiskan waktu bersama hingga larut malam walaupun Ibu sering marah karena hal itu.

Hari ini aku ke sekolah seperti biasa. Aku bangun jam 5pagi, kemudian mandi. Seragam untuk hari ini menggunakan seragam putih, blazer hitam dan rok kotak kotak hitam, aku mengambil seragam dari lemari ku, saat aku buka terlihat Yuhi membungkuk memeluk dengkulnya sambil menunduk. Aku kaget, kemudian terdengar suara kecil tertawanya. Aku menyeringai dan bertanya tanya pada diri sendiri,

“Yuhi, keluar dari situ sayang, apa yang kamu lakukan? Tidak sesak?”

tak ada jawaban. Hening. Yuhi terlihat lusuh dgn rambut acak acakan yang masi menggunakan piyama tidurnya. Aku mencoba menyentuhnya, tp mengurungkan niatku saat dia tegak bangun dan pergi berlari. Aku tertawa kecil, melihat tingkah Yuhi yg sangat aneh.

*******

Pelajaran di sekolah membosankan, hanya Minho, Yuri, dan Seohyun alasanku datang ke sekolah. Tanpa mereka, aku pun tak ingin sekolah. Dan kalau saja salah satu diantara mereka hilang, akupun tidak tau harus melakukan apa.

Hasil ulangan fisika dibagikan, aku mendengus kesal saat melihat kertas tersebut dgn nilai 60. Aku berpaling melihat jendela seketika. Saat aku menengok, aku dapat melihat Yuhi ada disana. Aku segera keluar kelas dan meminta izin kepada guru, aku mencari Yuhi, namun tak ada. Aku menengok dan terus mencarinya di segala penjuru, tapi hasilnya kosong. Padahal aku yakin tadi ada Yuhi.

*******

Akhir akhir ini Yuhi menjadi pikiranku, di otakku bernaung namanya. Dan di setiap penglihatanku, ada dia. Aku mendekati Yuhi yang sedang duduk sendiri di ruang TV sambil mencorat coret di kertas. Aku mengerti dengan jelas, apa yang dia tulis. Kata sandi. Yuhi menulis kata sandi yang di ajarkan Ayah. Baru kemarin di ajarkan, dan dia bisa? Aku saja tidak ingat. Pikirku. Aku menarik kertasnya, dan membawanya pergi. Aku lihat Yuhi kesal, tapi tidak peduli. Toh dia hanya anak kecil biasa.

Aku berpikir arti kata sandi itu, tapi tidak mengerti, aku membalikkan badan, Yuhi tampak tepat didepanku, tatapannya menandakan kebencian. Cepat cepat aku mengembalikan kertas itu dan kemudian pergi. Aku berfirasat buruk tentang Yuhi, sejak awal dia menginjakkan kaki di rumahku.

*****

Malam ini malam yang sangat panas, jantungku berdetak sangat keras, lbh dr biasanya. Aku menarik nafas, dan menelfon Minho untuk menceritakan yang aku rasakan.

Di sela tawaku dengan Minho aku mendengar suara pecahan piring yang berasal dari dapur,

Aku mematikan telponku dengan Minho. Seketika perasaanku berubah menjadi seperti awal sebelum telfonan dgn Minho. Keringat membasahi keningku, dan aku melihatnya. Ibu terjatuh lemas di lantai dengan darah bercucuran. Airmataku mengalir sederas aku bisa mengeluarkannya. Perasaanku sedih sesedihnya yang pernah aku rasakan. Aku mendekati Ibu, memeluknya dengan hangat, tak peduli sebanyak apa darah yang menempel di bajuku, aku tetap memeluknya. Badanku gemetar saat melihat Ibu memejamkan matanya, aku terlambat. Aku belum sempat mengatakan aku cinta padanya, dan aku belum sempat membahagiakannya. Aku menangis sejadinya, sesekali aku teriak sedih. Aku membuka semua memori tentang Ibu, semua hal indah dengan Ibu kandungku tercinta selama lamanya. Suara pecahan piring terdengar lagi, bukan satu atau dua piring, tapi banyak sekali. Aku jalan ke dapur, untuk melihatnya. Dia. Ya, Yuhi menjatuhkan piring piring itu. Dan yang tak ku percaya adalah, pisau itu dia pegang, pisau bekas darah Ibu, dan bercak darah menempel di baju Yuhi.

*****

Ayah pulang dari Swiss untuk pemakaman Ibu. Aku sudah berusaha menjelaskan Yuhi yang membunuh. Tapi tidak ada yang percaya, Ayah, Polisi, Yuri, Seohyun, bahkan Minho. Aku pasrah menerima kalau tak ada yang percaya, karna itu hal yang benar benar aneh untuk dilakukan oleh seorang anak kecil.

Semenjak kematian Ibu, dan Ayah kembali bekerja di Swiss, aku lebih sering menginap ketimbang tidur di rumah. Aku takut padanya, Yuhi.

Hari ini aku menginap di rumah Yuri, dan tiba tiba ada tamu. Aku tidak percaya, dia adalah Yuhi. Di tengah hujan dia datang ke rumah Yuri. Rumah Yuri? Tau darimana dia? Pikirku. Yuhi terlihat kedinginan,

“Kakak, boleh aku ikut nginep disini? Aku kesepian di rumah bersama pembantu”

Yuhi berbicara pada Yuri. Aku jarang sekali melihatnya berbicara. Yuri tersenyum, dan mempersilahkan Yuhi masuk. Aku melihat Yuhi membawa tas. Saat Yuhi mandi, aku membuka isi tasnya, aku menemukan kertas waktu itu, kemudian aku mengambilnya dan menyembunyikannya.

Tiba tiba aku mendengar teriakan Yuri, aku segera berlari ke sumber suara. Kali ini Yuhi mencoba membunuh Yuri, aku datang terlambat, Yuri telah mati.

.

Saat  ini aku menangis lagi, perasaan dendamku mulai muncul. Sedih, marah, takut, frustasi, benci, bingung, dendam, semua perasaan itu aku rasakan saat itu juga. Mulai dari Ibu hingga Yuri.

*****

Aku membuka laci kamar Ayah, mencari buku kata sandi milik Ayah dan dibuat oleh Ayah pribadi. Setelah itu aku menemukannya, dan mengartikan kata sandi yang Yuhi tulis. Selain itu aku juga menemukan catatan Ayah dan membacanya.

DEG

******

Aku datang ke tempat Seohyun, tepat pukul 22:53, aku berlari dari rumah yang jaraknya tidak jauh. Nafasku sesak dan aku menangis, sesekali aku terjatuh, tapi bangkit melanjutkan perjalananku, aku ga mau terlambat untuk ketigakalinya.

Saat sampai, rumah itu terlihat kosong, gelap dan sangat sepi. Aku memasukinya, firasatku sangat buruk, aku merasakannya, bau darah yang sangat anyir tercium peka di hidungku.

Aku mulai menangis lagi. Aku meraba sekitar, jongkok dan memeluknya, baunya darah membuatku enek tp tidak mengubah perasaanku untuk memeluknya terakhir kalinya.

Aku mencium keningnya, Seohyun, aku sayang padanya. Dia sahabatku. Kali ini aku menangis lagi karena hal yang sama, kematian. Aku melihat dia di tempat kejadian. Yuhi tertawa melihatku yang menangis.

******

Esoknya aku berusaha menelfon Ayah, tapi tidak diangkat, Ayah terlalu sibuk dan aku menelfonnya saat jam kerja Ayah. Kemudian aku berangkat pergi ke rumah Minho, dan aku melihat Yuhi tersenyum ke arahku, senyum licik, kebencian, dan senyum kepuasaan. Aku tidak peduli dan lari ke rumah Minho, aku membawa kertas yang Yuhi tulis waktu itu, buku kata sandi Ayah, dan buku harian Ayah. Aku ingin menunjukkan sesuatu.

******

Saat tiba di rumah Minho, sepi sekali. Aku bersender di pintunya dan tak sadar aku tertidur.

Saat terbangun aku sudah ada di dalam ruangan, aku melihat Minho di samping tempat tidur aku berada dan rasanya aku tidur lama sekali entah berapa lama aku tertidur,

“Ada apa datang ke rumahku? Maaf, aku baru saja pulang tadi sore dan membiarkanmu tertidur di depan rumahku sangat lama. Ada apa? Kamu tampak terburu buru”

Aku duduk dan baru mengingatnya untuk menyampaikan ini. Kita pindah ke ruang TV untuk membicarakannya.

“Yuhi pembunuh” kataku singkat.

Minho diam, seperti tidak percaya yang aku katakan

“Aku benci padanya” kataku lagi

“apa karena 3orang yang kamu sayangi meninggal, kamu menyalahkannya? Jagi, berpikirlah lagi” Suara Minho sangat lembut, itu membuatku tidak bisa menentang perkataannya. Aku diam, mataku berkaca kaca. Aku sudah capek menjelaskan ini kebanyak pihak, dan tak ada satupun yang percaya.

“bahkan kamu pun ga percaya aku”

Minho tarik nafas dan memelukku, aku berontak melepasnya dgn kasar.

“aku benci semua”

Aku menangis, emosi ku mulai naik, rambut aku berantakan dan nafasku tak beraturan, Minho hanya diam.

“yaa!! sampai kapan aku bisa tahan seperti ini? Sudah sangat cukup.” Kataku mulai emosi.

Aku tau jalan keluar kali ini, ini pilihan yang menyakitkan. Aku mengeluarkan semua barang di tas ku, aku memperlihatkan kertas Yuhi, sandi Ayah, dan catatan Ayah.

PERTUNJUKAN BERDARAH

KAMIS= IBU 00:00

JUM’AT= YURI 00:00

SABTU= SEOHYUN 00:00

MINGGU= MINHO 00:00

DEG

Minho melihat ke arahku, dia memegang pundakku tapi aku berontak lagi. Kemudian dia membaca catatan Ayah.

Saya tidak sengaja menabrak Youngmi saat di kantor dan Youngmi dilarikan ke RS tapi tidak tertolong. Suami Youngmi, menyalahkan saya dan ingin melaporkan saya ke polisi. Tapi saya tidak mau dan melakukan perjanjian, saya akan menyerahkan uang 1miliar. Karena saya tidak sungguh sungguh ingin memberinya 1miliar, saya membunuhnya. Dan untuk menebus kesalahan itu semua, saya mengadopsi anak mereka, Yuhi. Saya yakin Yuhi akan hidup bahagia bersama keluarga saya.

Minho kaget setelah membacanya, “i-inii?”

“ya. Ayah membunuh kedua orangtua Yuhi, dan sekarang Yuhi membunuh semua yang aku punya” aku masi menunduk, aku menghapus airmataku dan melihat ke arah Minho. Ekspresinya berubah menjadi takut.

“Minho, mianhaeyo” kataku pelan, suaraku melemah

“untuk apa?”

“bukankah kamu hidup menderita karnaku? Karena kesalahan Ayahku, kamu jadi terlibat dan bahkan kamu akann……” di akhir kalimat aku terdiam, menahan tangis yang menumpuk di bola mata, tapi aku menahannya untuk keluar,

“Yoona, tidak ada hal yang boleh disalahkan bila sudah terjadi. Percayalah setelah ini kita akan tetap bersama selamanya”

Hatiku terenyuh mendengar 8 kata terakhir yang dia ucapkan, aku melihat ke atas berusaha mencegah turunnya air mataku. Setitik air mataku menetes dari ujung mataku,

“tidak bisaaaa ini semua sudah di jadwalkan olehnya, dan mungkin dia ada di sekitar sini sekarang” suaraku makin kecil, aku tidak mampu berbicara lebih banyak lagi. Aku sangat takut.

“kalau kita berdua, pasti kita bisa. Percaya lah sesuatu yang kita anggap benar, yang kita yakini dalam hati” kali ini aku ga bisa menahannya, aku menangis.

“tapi minho……….”

Aku menangis tanpa suara, aku tau pada akhirnya aku akan kalah bila berbicara pada Minho. Minho tidak pernah membenciku, sekalipun dia akan dibunuh karenaku. Aku sangat mencintainya. Sangat sangat. Tiba tiba Minho memelukku dengan sangat pelan, aku menoleh ke arah jam yg menunjukkan pukul 23:50.

“Minho, 10menit lagi………” kataku tersengal sengal di isak tangis yang menjadi jadi.

“percayalah kita bisa” katanya tetap tersenyum.

Aku memeluknya erat, aku tidak tahan ini terjadi, aku tidak mau kehilangannya. Jendela tiba tiba terbuka menandakan kedatangan Yuhi, angin berhembus sangat kencang. Aku tidak tahan, aku tidak akan terima kenyataan bila Minho hilang. Aku melepas pelukan Minho, pergi ke arah dapur kemudian balik lagi, aku membawa pisau di tangan kananku, kulihat Yuhi ada di situ saat itu, siap membunuh Minho. Aku menoleh ke jam dinding yang menunjukkan pukul 23:55. Aku menarik napas panjang,

“Minho, aku sempat berpikir ini saat itu, tapi aku mengurungkan niat ini. Sekarang saat aku sadar bahwa kamu adalah segalanya, niat ini muncul lagi. Mianhaeyo.”

Aku memegang pisau di tangan kanan yang siap mengiris urat nadiku,

“Minho, kamu menyadarkan aku banyak hal. Sungguh. Aku ga mau merasakan kesedihan lebih banyak lagi, aku sudah sangat terpukul apalagi kalau kamu….. Aku merelakan nyawaku agar kamu masi tetap ada. Kamu boleh mencari penggantiku, yang lebih baik yang bisa memberimu kebahagiaan”

Aku menangis, aku yang tadinya menunduk melihat ke arah Minho, dia menangis, ini pertama kalinya kulihat,

“kamu tau pikiranku saat ini? Aku yang melihatmu menangis rasanya tidak bisa meninggalkanmu. Tapi aku………..” aku menoleh ke arah jam 23:59 dan Yuhi terlihat tertawa,

“ini waktunya. Maaf. Sa-rang-hae, Minho” aku mengiris urat nadiku, aku terjatuh dan sekilas Minho datang mendekatiku dan memelukku di tangisnya,

Di lain sisi aku melihat Yuhi pergi dan tidak jadi membunuh Minho, aku tersenyum di akhir nafasku. Syukurlah.

THE END

jangan lupa komen yaaaaa ^^ thankyuu

About Han

My world and days. People beside me. Precious family. You. That's I loved. JYH's ♥

Posted on December 16, 2010, in fanfic and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: