(fanfic) Your Life

Your Life

Author: Han Yoorim

Cast:

-Goo Hara (KARA)

-Kim Taeyeon (snsd)

-Kim Kibum (SHINee)

-Han Seung Yeon (KARA)

-Choi Minho

Genre: AU, Tragedy, Sadness (maybe), and other.

Length: Short Story

Rating: semua umur ^^

Perasaanku berubah karenamu. Semakin lama semakin di rasa. Tapi pahit masa lalu menyadarkan aku. Tak ada yg pantas untukku.

Siang di kota Seoul hari ini tampak dingin diselimuti oleh salju. Tanggal yang memasuki musim itu tiba tepatnya hari ini. Awal yang tepat untuk bermalas-malasan di rumah sambil menunggu hari masuk sekolah tiba setelah liburan musim dingin. Aktivitas masyarakat seketika sepi di jalanan kota, putih dingin menyelimuti negara indah itu penyebabnya. Di sebuah perumahan kalangan menengah, tampak seorang gadis masih tidur di kamarnya yang hangat, dan seorang pria yang tak lain adalah kakaknya tepat berdiri di samping tempat tidur gadis itu,

“ya! Taeyeon-ssi, bisakah kau bangun? Ibu memarahiku dan menyuruhku membangunkanmu! Setelah itu bersihkan gudang! Ayolah saengie”

gadis itu seraya bangun, lalu memandang oppa nya sebentar dan kembali memejamkan matanya.

“ya! Taeyeon! Bangun!!!” terdengar lakilaki itu berteriak cukup keras yang membuat Taeyeon terbangun,

“oppa, aku dengar.. Aku de-ngar” kata Taeyeon dengan lesu dgn pandangan sayu kepada oppanya.

“hhh. Baik saengie manis, mari bangun” kali ini suara oppa nya terdengar lebih halus, Taeyeon tersenyum lalu beranjak ke kamar mandi untuk cuci muka.

“hhhh…”

pria yg terlihat tua dan capek itu berusaha bernafas, darah yang mengalir di dadanya membuatnya sulit bergerak, dia mendapati sesosok gadis remaja cantik yang seperti boneka ‘barbie’ telah menusukkan pisau ke arah dadanya.

“maaf tuan Kim” kata gadis itu, dia menundukkan kepala bibirnya mengukirkan senyuman kepuasan.

“aa-akuuu..” tuan Kim yang kehabisan nafas kini terpungkur kaku di persimpangan gang dekat stasiun itu. Bercak darah menyampur dengan salju yang turun perlahan. Gadis itu kemudian pergi meninggalkan tuan Kim tergeletak lemah.

“yeobo belum pulang,” cemas seorang yang di dapati eomma kakak-beradik itu.

“khh eomma eomma, udah tua aja masih sok mesra. Appa kan udah biasa pergi malem, pulang pagi. Paling bentar lagi Appa pulang. Mungkin Appa mampir beli oleh oleh.”

anaknya menyahut yang sedang membersihkan kaca jendela rumah itu, dia hanya bisa berfikir positif.

“tapi perasaan eomma tidak enak”

Taeyeon menoleh ke arah eomma nya yang sedari tadi sedang membersihkan keramik milik keluarganya, “eomma jangan berkata begitu. Aku jadi takut.”

Taeyeon tampak cemas, tapi sosok laki laki itu menenangkan 2 wanita yang dia sayang.

“kibum oppa..” kata Taeyeon melihat oppanya dan memeluknya.

“kali ini aku harus apa? Membunuh lagi?”

yang ditanya hanya menyeringai, menatap sosok di hadapannya dengan jijik, tak peduli siapa sebenarnya sosok di hadapannya itu.

“appa?” tanyanya lagi.

“jangan memanggilku Appa!! Aku benci itu” katanya marah.

Tangan gadis yang memanggil orang di hadapan nya dengan sebutan Appanya itu bergetar hebat, dan tangan itu dikepalnya. Dia mengambil sebilah pisau dari kantong rok nya. Lalu melemparkan langsung tepat kehadapannya. Tapi sayang sekali, pisaunya menancam di kursi laki laki tua bangka itu.

“cih”

gadis itu mendecak kesal,

“Hey nona, aku masih Appa mu!!!” teriak pria itu, memohon agar dia tidak di bunuh.

“kau Appa ku? Aku benci mendengar itu,” jawab gadis itu sambil tersenyum puas. Dia memutar balikkan perkataan tuan di depannya itu. Dengan sekilas, gadis itu berada di belakang Appa nya. Menyodorkan badan ke depan sehingga agak memeluk kursi yang di duduki Appa nya, dan menarik sebilah pisau yang tertancam pada badan kursi empuk itu. Dia mendekatkan pisau itu dengan leher Appa nya. Gadis itu menyunggikan senyuman di sebelah sisi. Senyum devil.

“nak, berhentilah bermain dengan pisau. Tolong jatuhkan ke lantai” pintanya rada memohon.

“aku tidak akan menjatuhkannya ke lantai, sebelum aku mendapati kesenangan ini. Membunuh orang yang telah memberikanku hidup sekaligus menelantarkanku dalam jebakan permainannya. Bukankah itu hal yg seru? Sayang bos di depanku ini tidak bisa menyaksikannya. KARENA KAU LAH YANG DIBUNUH”

sebelum pria itu sempat berbicara, gadis itu telah menyayat nadi di leher pria itu. Darah perlahan keluar menggrogoti leher yang mulai keriput itu. Jok kursi itu sangat kotor berceceran darah, gadis itu menunduk didapati dia tersenyum tapi air mata jatuh di pipi halusnya. Dia merasa kecewa, pada Appa nya sekaligus dirinya yang tidak bisa lagi merasakan kebahagian, cinta, kasih sayang dan banyak hal lagi. Tangannya yang kecipratan darah tak di lihatnya sebagai suatu yang menjijikkan. Dia sudah terbiasa, juga pada bau anyir darah yang sangat menusuk hidung. Sekarang yang dipikirkan nya hanya satu, apa yang harus dia lakukan sekarang? Kembali membunuh atau berubah menjadi dirinya yang dulu agar dapat merasakan yang namanya ‘kasih sayang’?

Liburan musim dingin berakhir, kini waktunya kembali bekerja dan sekolah seperti biasanya. Dinginnya kota tidak mengurangi aktivitas masyarakat saat itu. Di sebuah sekolah, kakak-beradik itu mendapati berita duka saat hari pertama musim dingin, 22 desember. Tuan Kim, Appa dari mereka berdua meninggal dunia, dikarenakan hal yang tidak pasti modusnya. Hari itu wajah sembab tidak luput dari wajah 3 anggota keluarga itu tanpa terkecuali. Hari natal yang seharusnya dirayakan dengan senyuman tapi tidak dengan keluarga itu. Hari itu jadi hari tersepi sepanjang masa saat natal tiba. Begitu juga saat tahun baru yang sedihnya tidak beda jauh dengan hari natal. Kini walaupun mereka sudah kehilangan sosok Appa yang mereka cintai, mereka tetap tegar menjalani hidup. Taeyeon, gadis manis itupun tersenyum pada pagi ini menyambut hari baru nya di sekolah sambil berkata,

“annyeonghasseo”

“annyeonghasseo, choneun Goo Hara imnida”

Gadis itu menundukkan kepalanya. Sekilas, dia tampak seperti gadis biasa dengan ekspresi datar dan sulit di tebak. Tapi kalau dilihat seksama, gadis itu tampak sangat cantik dengan wajahnya yang mungil, putih bersih, mata nya yang besar, bibir merah, badan langsing, dan rambut panjangnya yang indah walaupun rada berantakan. Taeyeon sedari tadi memperhatikan gadis imut yang berdiri di depan kelasnya itu.

“ya! Hara, tak ada yang ingin kau sampaikan lagi?” tanya Siwon sonsaengnim.

“ah, tidak” jawabnya singkat.

“baiklah, kau duduk di belakang Lee Sunkyu”

sonsaengnim menunjuk kursi orang yang dia maksud, yang di tunjuk mendesah kecil, “hah tak cukupkah orang memanggilku Lee Sunkyu?” cibirnya. Taeyeon hanya tertawa yang duduk tepat di seberang kanan Sunkyu atau biasa dipanggil Sunny. Hara mendapati kursinya kemudian duduk dan mengikuti pelajaran dengan tenang.

Saat istirahat tiba, Taeyeon mendekati Hara yang tampak sendirian.

“Kim Taeyeon imnida,” katanya sambil mengulurkan tangan.

Hara menoleh dan mengulurkan tangan sehingga mereka bersalaman, “Hara”

saat mereka bersalaman dan saat Taeyeon hendak bertanya, seseorang menyoleknya,

“ne?” tanyanya.

“pangeranku mencarimu” kata Sunny senang.

Taeyeon sedikit bingung, tapi kemudian ingat “pangeran? Ah, oppa?” tanyanya

“ya, Key oppa >.<” jawab Sunny kesenangan sendiri. Taeyeon hanya tertawa kecil, “ah iya, Hara-ssi nanti lagi ya kita mengobrol” Hara mengangguk kecil.

Taeyeon seraya pergi mencari oppa nya, dia mendapati oppa nya berdiri di ambang pintu kelasnya,

“ada apa oppa?” tanya Taeyeon tersenyum manis.

“bagaimana kalau pulang sekolah kita ke makam Appa?” tanya Key, serius.

“ah baiklah. Oppa tau saja aku kangen dengan Appa.”

mata Taeyeon berbinar dengan sangat semangat.

“haha. Ngomong-ngomong itu siapa? Cantik.” Key menunjuk ke arah Hara.

“ah? Oppa suka dia. Aku juga! Haha” kata Taeyeon semangat.

Key kaget, “hei, kau gila? Dia perempuan”

Taeyeon tertawa, “aku tau. Hihi. Oppa, bukankah oppa sudah punya Hyoyeon eonnie? Dasar playboy. Huuu”

“mwo? Aku sudah putus dengannya. Haha. Biar saja aku playboy.” Key mengacak-acak rambut Taeyeon kemudian pergi, Taeyeon hanya bisa tertawa dan tersenyum melihat tingkah kakaknya.

ruangan itu sangat gelap, hanya ada cahaya dari jendela besar itu. Seorang wanita duduk di kursi roda terlihat menghadap jendela sambil memperhatikan kicau burung pada sore itu.

Glek,

pintu terbuka dan seorang gadis terlihat di sana, masih memakai seragam sekolah. Kemudian dia tersenyum, “eomma”

wanita kursi roda itu menoleh sebentar tapi berpaling lagi ke arah jendela besar itu. Yang memanggilnya hanya menunduk ketakutan,

“mianhaeyo,” suaranya lirih.

tak ada balasan. Suasana tiba tiba sepi, burung yang berkicau di dahan pohon tadi terbang entah kemana sehingga tak ada suara lagi. Wanita tua itu membalikkan kursi rodanya, berjalan menuju pintu tepat dimana gadis itu berada. Tapi kemudian dia melewati gadis itu dan pergi keluar.

“ya! Eomma ottoke? Aku sudah minta maaf. Itu pertama kalinya aku minta maaf padamu, Dan aku mampu memanggilmu eomma, arayo? Bukankah itu yang eomma mau? Apa salahku lagi?!” gadis itu terpengah kecapean, air matanya mengalir deras. Eomma nya pergi meninggalkannya tanpa membalas perkataan gadis itu satupun. Gadis itu langsung jatuh ke lantai, air mata nya masih mengalir. Dia menoleh ke arah meja makan, di dapati nya sebuah pisau dan dia mengambilnya. Senyum itu tersungging di bibirnya, “hihihi”

“kau tau, SeungYeon?”

“Han SeungYeon maksudmu?”

“ne, katanya dia membunuh banyak orang. Kita mesti hati hati nih,”

“jinjja? Ah, dia kan anak kelas sebelah, jadi ngeri”

“iya kita mesti hati hati. Jangan sampai dekat dengannya”

samar samar bisikan itu terdengar di telinga Hara yang pagi itu tiba di sekolah, “SeungYeon?” pikirnya.

“tadaaa!! Hara-ssi” kata Taeyeon mengagetkan Hara dengan wajah cerianya.

“ah, Taeng” jawab Hara.

“gwenchanayo? Kamu terlihat lesu”

“ah gwenchana Taeng-ssi” jawab Hara sambil tersenyum.

“syukurlah,” jawab Taeyeon lega.

“Han Seung Yeon!!!” seorang laki laki memanggil nama itu, yang di panggil menoleh dengan enggan dan tersenyum ‘khas’nya, senyum yang enggan.

“wae?” jawabnya singkat.

Laki laki yang memanggil menghampiri SeungYeon, kemudian menyerahkan sebuah catatan kecil, “kau mau memimjamnya kan?” tanya laki laki itu.

“ah, ya, kau mengingatkan ku. Thanks, Minho” SeungYeon tersenyum. Begitu juga dengan Minho. Sekeliling melihat mereka berdua, yang membuat SeungYeon menatap sinis dan seolah olah berkata, “apa? Ada yang aneh?” makanya seketika anak anak langsung kembali dengan aktivitas masing-masing. SeungYeon masih melihat sinis ke arah anak anak, Hara melihat nya juga. Dan mata mereka saling bertemu satu sama lain. Hara memalingkan wajahnya dengan cepat berharap SeungYeon tidak ingat padanya. Tapi SeungYeon masih terus melihat Hara.

“Hara” gadis berambut panjang sebahu berwarna cokelat itu menarik tangan Hara dengan paksa.

“hhn, apa maumu?” Hara menoleh dengan enggan.

SeungYeon membawa Hara keatas gedung sekolah, terlihat di bawah anak anak berlarian pulang. Dan Taeyeon mencari Hara.

“jadi, apa? Langsung saja.” Hara membuka pembicaraan.

“apa? Kau berkata seolah tak punya salah padaku” SeungYeon memandangnya marah.

“molla”

“jangan pura pura tidak tahu. Kau membunuh Appa-ku” kata SeungYeon.

“aku? Kau salah orang. Bukan aku, tapi Tuan Goo” jawab Hara, memalingkan wajah.

“itu Appa mu babo!” SeungYeon menahan amarahnya, tangannya terkepal.

“aku tidak berurusan lagi dengannya”

Hara berjalan menjauh dari tempat SeungYeon berada. SeungYeon terdiam kaku tak bisa apa-apa, kemudian Taeyeon datang,

“Ah! Hara-ssi ternyata benar kata Sunny, kau ada disini!! Bagaimana jadi ke rumahku?” tanya Taeyon bersemangat.

“ne” Hara menjawab.

Taeyeon menoleh ke belakang, dia melihat SeungYeon disana. SeungYeon terlihat marah. ‘Ottoke? Apa yang sebenarnya terjadi?’ pikirnya.

“ya! Hara-ssi ini oppaku Kibum atau kau bisa memanggilnya Key, dan oppa, ini Hara.” kata Taeyeon ceria.

“Hara imnida” hara membungkukkan badannya.

“ah, Key imnida” Key tersenyum. Dia mengulurkan tangan, tapi ulurannya tidak di balas uluran Hara. Key hanya mengusap kepalanya malu.

“haha” tiba tiba Taeyeon tertawa.

“ehem, ada aku di sini” Sunny berdehem keras. Taeyeon langsung menutup mulutnya. Padahal dia tau Sunny sangat menyukai Key Oppa. Tapi kenapa? Kenapa dia senang melihat Key mencoba menarik perhatian Hara? Yang dia inginkan, asal oppa nya bahagia dengan siapapun itu tak masalah.

“oh iya, Hara-ssi! Tadi apa yang kau bicarakan dengan Seungyeon?” tanya Taeyeon memecah keheningan saat mereka makan berempat.

“mwo? Seungyeon?” tanya Key kaget. Taeyeon mengangguk. Sunny hanya makan seolah tak peduli.

“ah, gwenchana. Seungyeon hanya ingin bicara sedikit padaku” jawab Hara masih mengunyah makanannya.

“kalian saling kenal?” tanya Key. Sunny memandang kearah Key sebentar, kemudian melanjutkan makannya.

“ne, pernah sempat kenal” jawab Hara singkat.

“oh ya? Hati hati dengan nya. Aku memang tidak kenal dengannya. Tapi kabarnya, dia pembunuh”

“Taeng, bisakah kau katakan pada Hara bahwa aku duluan yang telah mengincar Key oppa?”

Taeyeon melihat sosok di depannya tegang, ia pun merasakan hal yang sama. “Sunny-ah mianhaeyo”

Sunny membelalakan matanya, “wae? Apa maksudmu?”

Taeyeon menarik nafas, “sepertinya Key oppa menyukai Hara”

Sunny menunduk, segurat senyum terukir di bibirnya. Dia memicingkan mata bulatnya, kemudian menatap Taeyeon lekat lekat, “kau ingat? Seperti apa aku mengejar Key oppa? Seberapa capek aku berusaha, ternyata hasilnya sama. Dunia ini ga adil, tidak mengenal namanya ‘duluan’ padahal kalau diingat dengan jelas, akulah yang tau terlebih dulu mengenal Key oppa. Aku yang selalu memperhatikannya, tapi apa? Aku ga nyangka akan mempunyai teman yang membunuhku secara perlahan. Aku pun tak menyangka, bahkan kau, Taeng, sahabatku, lebih peduli padanya ketimbang aku”

air mata mengalir dari pelupuk mata indah Sunny. Taeyeon secara refleks memeluk sahabatnya itu.

“sunny, molla. Mianhae” Taeyeon ikut menangis di pundak Sunny. Sunny mengangguk pelan pada Taeyeon,

“mulai sekarang, aku akan mencoba untuk melupakan oppa mu. Karena kalau tidak aku akan jatuh terlalu jauh bukan?” Sunny berkata di isak tangisnya, sedang Taeyeon hanya bisa berkata “mianhae” dari tadi.

Di sisi lain Hara melihat mereka berdua dengan jelas, di balik pohon yang rindang tak jauh dari lokasi Taeyeon dan Sunny berada. Hara memandang mereka dengan tatapan kosong, “suka aku?” katanya pelan.

Pagi ini Key telat datang ke sekolah dan Taeyeon telah meninggalkannya serambi berangkat terlebih dahulu. Di jalan Key berlari, kemudian di perempatan jalan dia menabrak seseorang,

“aduh,” kata suara di hadapannya.

“ah, gwenchana? Mianhaeyo” Key membantu gadis itu bangun, dia memandang gadis itu, “Hara?”

Hara memutarbalikkan bola matanya, ternyata benar, di hadapannya ada Key oppa.

Key dan Hara berjalan ke arah taman. Sebuah taman yang indah dan menenangkan. Udara yang dingin terasa hangat menyelimuti mereka berdua. Di seberang bangku mereka duduk, terdapat 5 anak kecil sedang bermain bola salju.

“apa tak apa, kita tidak sekolah?” tanya Hara heran.

“aku rasa kita memang lebih baik tidak sekolah.” jawab Key sambil tersenyum memandang Hara, sedang Hara memperhatikan 5 anak kecil di hadapannya.

“kenapa?” Hara bertanya dan sedikit menoleh ke arah Key.

Key tersenyum tulus memandangi wajah Hara yang mulus dan sangat cantik, “karena aku bahagia sekarang, bisa dekat denganmu”

“ne?” tanya Hara kaget.

“haha.” Key tertawa, “lagipula hari ini ada pelajaran kimia dan aku tak suka” lanjutnya.

Hara mengangguk mengerti. Setelah itu mereka berbicara banyak hal, yang penting sampai tidak sama sekali. Hara mulai merasakan perasaan yang berbeda. Dia merasa nyaman berada di samping Key. Begitu juga dengan Key, dia selalu tampak ceria setiap kali dia bercerita pada Hara. Aura saat itu berubah menjadi sangat romantis. Hara melupakan bagaimana masa lalunya telah merenggut semua yang dia miliki, dan mungkin kebahagiaan saat ini akan di renggut kembali oleh masa lalunya. Tapi dia berharap dalam hati, masa lalu itu tidak datang saat ini. Biarkan dia merasakan kebahagiaan sebentar saja.

“Hara? Kau melamun?” tanya Key mengibaskan tangannya di depan wajah Hara.

“ah, ani. Gwenchana” jawab Hara sambil tersenyum manis.

Key membalas senyuman itu, “kau haus? Aku belikan minum dulu ya”

“ah, ye” kata Hara. Dia melihat punggung Key menjauhinya, tanpa sadar Hara tersenyum. Saat menunduk Hara mendapati dompet.

‘dompet Key?’ tanyanya dalam hati. Hara mengambil dompet tersebut, dan membuka benda tersebut, ada foto keluarga.

‘ini Key oppa. Haha. Ini Taeng-ssi, ini eomma Key oppa, dan ini appa key oppa. Eh?’

Hara menatap foto tersebut, paras wajahnya berubah sedih. Seperti harapannya sudah sirna. Tanpa terasa air mata Hara turun, dan dia segera meninggalkan tempat itu.

Beberapa menit kemudian Key kembali ke tempat itu, “Hara” Key tersenyum, tapi setelah di dapati didepannya tak ada seorangpun, dia tertegun, “Hara-ssi?” panggilnya sekali lagi.

“mian Taeng, kemarin aku kencan dengan Hara” cerita Key senang.

“MWO? Kencan?” tanya Taeyeon yang kaget mendengar itu, dia menoleh ke arah Sahabatnya di sebelahnya, Sunny hanya menunduk. Tapi kemudian pergi dengan wajah sedih. Taeyeon ingin memanggilnya tapi dia ga mungkin ninggalin oppa nya sendirian.

“ye. Aku tidak sengaja bertemunya …..” Key bercerita panjang pada dongsaeng nya. Taeyeon hanya tersenyum.

“sekarang Hara dimana?” tanya Key.

Taeyeon menunjuk bangku Hara, “hm itu”

“mian Sunny..” kata Taeyeon lirih.

Key mendekati Hara, mata Hara terbelalak kemudia Hara berlari pergi meninggalkan Key.

“mwo? Aku salah? Atau aku bau?” tanya Key pada dirinya sendiri.

Hara berlari ke atap sekolah berharap dia bisa menyendiri. Tp ternyata di sana ada orang. Hara tetap berjalan mendekati orang itu, Seungyeon.

Seungyeon menatap Hara heran, “kau menangis?”

Hara tak menjawab. Dia hanya duduk di samping Seungyeon menatap lurus ke depan. Langit yang cerah di udara yang dingin. Setelah lama berdiam, Hara menghapus air matanya, “sejahat apa aku?” tanyanya.

Seungyeon kaget, tak menyangka Hara bertanya seperti itu, “cih, kau menyesal?”

“ne. Untuk kali ini.” Hara memaksakan senyum terukir di bibirnya.

“mwo? Tapi kau tau itu terlambat. Aku udah benci kau. Seluruh dunia yang kau sakiti juga membenci kau. Tak ada kata maaf untuk pembunuh seperti kau,” Seungyeon mengeluarkan seluruh isi hatinya, berharap Hara benar benar menyesalinya.

“aku…… Tidak bisa berhenti…” Hara menghela nafas “untuk tidak membunuh,” lanjutnya.

“di taman, aku ingin kita bertemu. Ada sesuatu yang ingin kukatakan,” Hara berkata lagi. Seungyeon hanya mengangguk.

di sebuah taman kecil di dekat stasiun..

“mianhae. Aku bersama Minho” kata Seungyeon menunduk.

“ne.” jawab Hara singkat. “aku ingin kau tau kebenaranku” lanjutnya.

Minho yang sedari tadi diam tidak mengerti apa yang mereka bicarakan.

“Appa mu….”

Seungyeon tiba tiba menangis mendengar kata itu. Minho merangkul pundak Seungyeon.

“aku minta maaf atas itu, mewakili Tuan Goo Appa ku. Aku tau itu sulit. Aku juga tidak bisa menerima kebenaran Appa ku yang seperti itu dan aku yang tak jauh berbeda”

suasana masih hening, Hara berusaha kuat untuk tidak menangis menyesali perbuatannya sendiri.

“aku….. sebenarnya sangat menyesal. Kini aku merasakan perasaan yang telah lama tidak aku rasakan. Tapi ketika bayangan gelap itu datang, aku sadar. Sadar bahwa aku tidak pantas lagi merasakannya. Apa lagi setelah mengetahui aku langsung membunuh Appa nya, bukan tuan Goo yang membunuh Appa nya, tapi aku. Rasanya setelah tau itu, aku ingin mati. Walau sebenarnya dari dulu aku rasa jiwa ku memang mati. Dan lagi, adiknya, aku merasakan sesuatu yang berbeda. Sebuah rasa percayaku padanya. Kau tau yang ku maksud?” Tanya Hara setelah panjang lebar berkata.

Seungyeon hanya menggeleng,

“aku… jatuh cinta” Hara menjawab. “tapi aku telah membunuh Appa nya di dekat sini pada tanggal 22 desember” Hara menahan nafas.

Minho semakin lama tambah bingung, yang dia tau, sosok di hadapannya bukan orang yang baik.

Seungyeon menghapus air matanya, “sayang sekali, Hara. Semua terlambat. Dan aku yakin orang kau suka itu pasti akan benci padamu setelah tau kenyataannya. Kenyataan kau pembunuh! Dan lebih dari itu, kau membunuh Appa nya.”

Seungyeon menarik nafas, “lalu.. kau juga telah membunuhku secara perlahan. Membunuh kehidupan ku secara perlahan tapi pasti” air mata keluar dari matanya. Minho merangkul gadis itu tambah erat,

“mungkin gadis manis di depanku ini tidak tau kenapa aku bilang kau juga membunuh secara perlahan. Kau pasti tau kan gosip tentangku yang bilang kalau aku pembunuh? Itu karenamu. Kau tau aku ga mungkin melakukan perbuataan keji begitu”

Minho membelalakan matanya, dia sadar betul, mengapa dia tak bisa menghilangkan perasaan pada gadis disampingnya. Karena dia tau, gadis di sampingnya adalah gadis yang baik.

“aku digosipkan begitu, setelah meninggalnya Appa ku yang di bunuh oleh Appa mu. Semua orang mengira, aku yang membunuh Appa ku sendiri. Karena saat itu aku sedang bertengkar dengan Appa. Dan sedihnya, yang memulai gosip itu adalah saudara ku sendiri. Yang telah lama ini membenci aku juga keluargaku. Dan kalau saat itu ada eomma, ini pasti ga akan terjadi.”

Hara menatap Seungyeon lekat lekat, rasa bersalahnya terasa makin dalam.

“setiap hari aku menangis. Tapi aku selalu sadar, menangis tak ada gunanya dan tidak mengembalikan semuanya.” suara Seungyeon makin mengecil, dia hanya menunduk sedari tadi di rangkulan Minho.

“arrayo. Aku tau jalan keluarnya” kata Hara tiba tiba. Dia merogoh kantung rok nya dan dia mengeluarkan benda itu. Pistol.

“mwo? Apa yang mau kau lakukan?” Minho marah dan berdiri di hadapan Seungyeon, melindunginya.

“minggir! Kau tak mengerti? Tak ada gunanya dia hidup kalau menderita seperti ini!!! Maka aku akan membunuhnya!” Hara berteriak.

Minho menoleh ke belakang, melihat Seungyeon.

“Minho-ya, minggir! Perkataannya benar” Seungyeon berkata lirih, memohon agar Minho minggir dari hadapannya. Tapi Minho tidak memperdulikannya. Dia tetap di hadapan Seungyeon melindunginya, Hara tersenyum kecut melihat itu.

“Seungyeon-ya, dengar!!! Tak ada yang membencimu di dunia ini! Karena cepat atau lambat seluruh dunia itu akan tau, kau bukan pembunuh!! Kamu gadis yang baik, Seungyeon-ya!! Saranghaeyo” Minho berteriak, Seungyeon menangis histeris di belakang tubuh Minho, dia berlutut di bawah sambil menangis.

‘satu satunya yang ku syukuri dari dulu semenjak tak ada cahaya kehidupan baru untukku, entah apa Minho selalu menemaniku. Tanpa peduli sikapku padanya dan sikap sekeliling yang melihat ku dengan aneh. Satu satu nya cahaya ku di hari tergelapku, Choi Minho’

“Minho, mianhae…” Seungyeon minta maaf di isak tangisnya, Minho memeluk gadis itu. Menenangkannya dalam dekapan hangat.

Hara melempar pistolnya, dia ikut menangis entah dia iri karena Seungyeon bisa mendapatkan yang dia punya, ataupun karena hal lain,

“ARRGGGGHHH”

Hara berlutut mengacak ngacak rambutnya. Seketika salju turun, bercampur dengan air mata dua gadis di taman yang sepi itu.

hari berganti hari dan musim dingin telah berakhir. Kini bunga bunga mulai bermekaran di setiap penjuru. Kini Hara melewati harinya bersama dengan kedua sahabatnya, Taeyeon dan Sunny, juga dengan orang yang dia suka, Key. Hara berusaha melupakan kejadian beberapa minggu yang lalu. Dia mencoba merenggut kembali kebahagiaannya. Tapi dia sadar, sebentar lagi kebahagian itu akan luntur dan kebenaran akan kembali. Dia sadar betul hari itu akan datang, dan sebelum hari itu tiba, Hara mempersiapkan diri juga berusaha mendapat kebahagiaan sebanyak banyaknya. Tak ada salahnya melupakan hal buruk, ya, sebentar saja.

“Taeyeon-ssi, ada yang ingin ku bicarakan,”

ya, inilah waktu yang tepat untuk bicara yang sesungguhnya.

Beberapa tahun kemudian……….

“Seungyeon-ya, hari ini ke makam?” tanya pria tampan nan tinggi itu.

“ne” jawab Seungyeon sambil tersenyum.

Setelah sampai di makam, gadis berambut coklat sebahu itu tersenyum,

“Minho, aku ingat kejadian beberapa tahun lalu. Walaupun Appa nya telah membunuh Appa ku, tapi dia orang yang baik bukan? Dan saat jujur pada sahabatnya sendiri, dia masih menangis. Tanda dia menyesali perbuatan itu. Memang salah membunuh Appa sahabatnya, tapi dia masih menyesalinya. Dia hanya terjebak dalam jalan hidupnya. Sampai sampai dia membunuh Appa dan Eomma nya sendiri. Padahal eomma nya orang yang sangat dia cintai, wanita yang lumpuh akibat Appa nya sendiri. Dia tak bisa berhenti membunuh juga karena Appa nya. Tapi yang di sayangkan, sahabatnya sampai sekarang tak pernah datang ke makam ini, karena dendam”

Minho tersenyum, “kamu baik sekali. Padahal hidupmu juga di hancurkan olehnya”

gadis itu tertawa, “buat apa aku dendam juga kalau itu semua sudah berakhir? Benarkan?”

Minho mengangguk mengerti lalu bertanya,

“bagaimana dengan orang yang dia suka?”

Seungyeon menarik nafas panjang, “tentu saja laki laki itu membenci gadis di hadapan kita.”

“oh iya, lalu gadis ini meninggal karena apa? Saat itu kan aku ada di Amerika.” Minho bertanya lagi.

Seungyeon menoleh ke arah Minho sambil tersenyum kecil, “Hara bunuh diri”

THE END

About Han

My world and days. People beside me. Precious family. You. That's I loved. JYH's ♥

Posted on December 16, 2010, in fanfic and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: