(fanfic) The Past, The Night, The Time Part 2

annyeong all ^^ berhubung sekarang minggu aku jadi mau post aja keke.

ini part lanjutan yang waktu itu lohh hehe. karena kali ini ceritanya panjang banget, maaf kalo bikin boring. maaf juga kalau susah jalan ceritanya ^^ happy reading

Part 2: The Night

Author: Rim

Cast:

– Luna Park

– Kim Jonghyun

– Park Leeteuk

Genre: Separation, sadness, romance, etc

Length: 3shoot

—————————–

Part 2: The Night

Hidup ini terlalu sulit
Ketika kau sedih, dia datang menghiburmu,
Ketika kau bahagia, dia ikut tertawa dalam kebahagiaan itu,
Ketika kau merasa nyaman bersamanya, dia mengatakan akan selalu bersamamu,
Ketika kau takut kehilangannya, dia berjanji untuk selalu ada,
Ketika kau menyadari kau mencintainya, dia menghilang..
Seperti bayangan di kala malam hari yang menghilang
Tapi ini bukan beberapa jam bahkan beberapa hari
Abadi, ya kehilangan yang abadi

Sakit..

Leeteuk mengeluarkan air matanya membaca sebuah buku harian yang biasa di baca Luna, buku harian yang kini ada di tangannya. Dia tau itu adalah milik Luna, milik Luna ketika dia belum menghilangkan sebagian ingatannya. Ketika Luna masih dapat tersenyum dan memiliki seseorang selain Leeteuk. Ketika Luna belum mengalami kecelakaan yang membuatnya kehilangan sebagian ingatannya.

Leeteuk memejamkan matanya, walaupun dia tak pernah mengerti maksud dari buku harian itu, dan walaupun Leeteuk tak pernah tau bagaimana masa lalu Luna, hanya saja, membaca buku harian Luna membuatnya sadar betapa kelamnya masa lalu gadis itu. Dia merasakan sebuah tekanan yang mendalam dalam batin Luna. Dia mengerti arti tangisan Luna selama itu, sebelum kejadian ini.

Tanpa Leeteuk sadari Luna masuk ke dalam kamarnya. Setelah sadar, Leeteuk langsung menghapus air mata yang ada di pipinya. Luna memandangnya heran,

“untuk apa oppa menangis?”

Laki laki itu menggeleng.

Luna mengerucutkan bibirnya, “aish oppa kau jahat tidak memberitahuku..”

Luna mencibir kecil sedari tadi, Leeteuk hanya memandangnya penuh tanya. Ketika melihat Luna, sebuah gambaran dari buku harian yang di bacanya selalu melintas di pikirannya.

Gadis itu melihat sekeliling kamar oppa nya, dan matanya tertuju pada suatu benda yang terletak di meja belajar Leeteuk. Dia mengerutkan keningnya dan mengangkat benda itu ke hadapannya,

“kenapa aku mengecat rambut menjadi pirang?”

Dia bertanya seolah seperti bertanya pada diri sendiri ketika melihat sebuah bingkai foto yang berada di kamar oppanya. Terlihat di foto tersebut Luna masih berambut hitam. Dia mengalihkan pandangannya ke Leeteuk, tanpa bicara dia memasang wajah bertanya hal yang sama kepada Leeteuk.

“kau sendiri yang memintanya saat itu, aku pun tak mengerti.” Jawab Leeteuk jujur.

Luna menggigit bibir bawahnya. Dia ingin tau semuanya, hanya saja terkadang semua itu terhambat dengan suatu hal yang kadang ada saja untuk menghalanginya. Luna ingin tau apa yang terjadi sebelum dia kecelakaan, Luna juga ingin tau bagaimana dan kenapa sekarang dia adalah Luna yang seperti ini. Tapi entah kenapa sebuah hati kecil gadis itu kadang mengatakan lebih baik dia tak tau masa lalunya, segitukah sedihnya?

^^

Jonghyun diam, dia memerhatikan Luna lagi dari kelasnya. Tak jauh memang, karena kelas Luna dan kelas dirinya bersebelahan. Bukan seperti kemarin saat melihat Luna yang akan bunuh diri, hanya saja, dia diam karena melihat Luna yang merubah penampilannya hingga 360 derajat. Luna yang sekarang berambut pirang, Luna yang sekarang memotong rambutnya, Luna yang sekarang tidak memakai seragam dengan rapih, bahkan Luna yang sekarang Luna yang melanggar aturan aturan sekolah. Jonghyun menelan ludahnya yang terasa sangat sulit untuk di telan. Dia meyakinkan dirinya sendiri, untuk percaya Luna tetaplah Luna.

Dia melihat gadis itu akan keluar dari kelasnya, ketika bel masuk di bunyikan. Apa yang akan di lakukannya? Membolos? Jonghyun yang khawatir tentang Luna, mengikuti gadis itu berjalan, hingga sampai pada atap sekolah.

“ba…bayangan?”

Luna terkejut melihat Jonghyun yang berada di tempat. Jonghyun hanya terkekeh pelan melihat ekspresi Luna yang begitu lucu. Padahal sedari tadi Jonghyun selalu mengikutinya, hanya saja Luna tak pernah sadar.

“kenapa kau ada di sini?” Luna memerhatikan seragam Jonghyun dengan sesaat, “kau murid sekolah ini? Satu sekolah denganku?” tanya Luna memasang ekspresi bingung.

Laki laki itu diam lagi. Ada sebuah rasa kecewa ketika dia baru saja sadar, ternyata Luna tak pernah tau dia adalah teman satu sekolahnya, siswa yang populer dan di sukai semua orang, seseorang yang selalu memperhatikannya dari Luna awal masuk sekolah itu, dan parahnya lagi, kelas mereka bersebelahan 2 tahun lamanya.

Luna bingung dengan ekspresi Jonghyun yang berubah kecewa, “eh.. waeyo?”

Jonghyun menggeleng, masih berusaha tersenyum.

“aku sudah bilang bukan? Aku bayanganmu. Makanya aku ada di sekolah ini”

Luna kaku tak bergerak. Bukan konyol yang di pikirkannya saat itu, tapi Luna jadi percaya bahwa Jonghyun seperti bayangannya. Karena Jonghyun selalu ada kapan saja, seperti bayangan yang selalu mengikutinya.

Jonghyun pikir alasan itu terdengar sangat konyol di pikiran Luna. Tapi pikiran dia salah ketika sebuah senyuman mengembang di bibir Luna saat dia berkata seperti itu, membuatnya yakin, alasan itu tak terlalu konyol.

Mereka duduk di sebuah bangku yang sengaja di letakkan di sana oleh pihak sekolah. Jantung Jonghyun berdetak lebih cepat. Penantiannya selama bertahun tahun terbayar oleh saat ini. Tapi dia masih ragu untuk selalu bertemu Luna, karena setiap kali pertemuan, pasti ada yang namanya perpisahan. Kadang alasan itu membuat Jonghyun merasa puas hanya dengan melihat Luna.

“jadi…. Kenapa kau berubah?” tanya Jonghyun memulai mengisi kekosongan sedari tadi.

“mwo?”

“kenapa kau merubah cara berpakaianmu? Rambutmu, dan sikapmu?”

Luna kini memandang depannya dengan pandangan kosong. Matanya berkaca kaca, seolah sebentar lagi akan menangis.

“Luna.. kalau kau tak ingin menjelaskannya tak apa” pinta Jonghyun. Dia takut dia hanya akan melukai perasaan Luna ketika dia memaksa gadis itu bercerita tentangnya. Kepada seseorang yang baru saja di kenalnya, tapi bukan bagi Jonghyun.

Luna menggeleng, “tak apa.. akan aku ceritakan” dia menghela nafas panjang, lalu mengeluarkannya, “aku hidup bertiga dengan keluargaku. Aku bukan keluarga yang sederhana, aku adalah seorang yang bisa di bilang mampu dalam apapun. Hanya saja kelurgaku tak pernah peduli padaku, hingga aku hanya percaya kepada Ammaku, Amma yang telah meninggal..”

Setitik air mata jatuh dari pelupuk mata Luna, “aku tak pernah suka dengan keluargaku yang tersisa. Appa terlalu mencintai selingkuhannya dan selalu tidak ada di rumah. Sedangkan Oppa ku, dia itu terlalu membenciku”

“hingga sampai hari di mana aku mengatakan ingin Appa mati saja. Dan ternyata.. itu terbukti sekarang. Dan itu semua salahku.. jadi..”

“Luna!” sela Jonghyun, “jangan katakan lebih dari itu. jangan katakan hal yang membuatmu terluka”

Luna mengusap sisa sisa air matanya dengan ke dua punggung telapak tangannya, kemudian tersenyum ke arah Jonghyun, “gomawo..”

Laki laki itu ikut tersenyum, “ah tunggu, aku punya sesuatu untukmu” ujarnya.

Kemudian Jonghyun berlari menjauh dari Luna, turun menuju entah kemana untuk mengambil sesuatu yang katanya akan di berikan kepada Luna.

Luna yang duduk sendirian tersenyum kecut, “mianhae bayangan.. aku berbohong. Aku berbohong dengan cerita tadi. Tapi bukankah seharusnya kau tau kalau aku sedang berbohong?”

Dia berbicara sendiri. Ada rasa sakit yang menyelimuti hatinya. Dia terdiam terus, hingga Jonghyun datang dengan nafas yang terpengah.

“ini” laki laki itu menyerahkan sebuah buku harian ke hadapan Luna.

“apa ini?” Luna mengerutkan keningnya tak mengerti, masih tak mau menerimanya.

Jonghyun tersenyum, “ini buku harian. Aku ingin kau mengisi ini terus. kau bisa mengungkapkan apa yang kau rasa kapanpun.”

“untukku?”

Jonghyun mengangguk, “ng.. lalu, suatu saat nanti, kau harus kembali menunjukkannya kepadaku ya?”

“mwoya? untuk apa?” Luna tambah bingung.

“karena ini dariku. Ku mohon ya..”

Akhirnya gadis itu mengangguk. Dia berdiam sesaat. Ada sesuatu hal yang janggal yang dia rasa sekarang. Seperti Jonghyun menyembunyikan sesuatu hal kepadanya. Tapi apa?”

Tiba tiba sebuah bel jam pelajaran selanjutnya berbunyi.

“Luna, aku masuk kelas dulu ya, jam pelajaran sudah di mulai. Kau mau membolos lagi?”

Luna menggeleng, “aku akan ke bawah nanti. Kau duluan saja”

Jonghyun mengangguk mengerti. Tapi sebelum Jonghyun pergi meninggalkan Luna, gadis itu memanggilnya,

“bayangan!!”

Jonghyun berbalik, “ada apa?”

“kau.. kau kelas berapa?” tanya Luna ragu.

Jonghyun menunjukkan deretan gigi putihnya, “Kelasku di sebelah kelasmu”

Luna tersenyum, kemudian di lihatnya punggung Jonghyun yang semakin menjauh dari pandangan matanya. Luna terdiam sesaat memikirkan kata kata Jonghyun barusan, “kelasnya di sebelah kelasku? Bagaimana aku tak tau?”

Gadis itu sangat bingung, dia tau secara berturut turut dua tahun, kelasnya tak pernah berubah, dan itu tandanya kelas di sebelahnya adalah tetap kelas dengan siswa yang sama. Tapi bagaimana bisa dia tak menyadari bayangannya ada di kelas sebelahnya? Apakah laki laki itu murid pindahan?

Luna mengacak rambutnya kesal, sesaat setelah itu, dia baru sadar sebuah buku harian pemberian Jonghyun ada di tangannya. Dia menatap buku harian itu perlahan, kemudian tersenyum entah apa yang di pikirkannya. Lembar pertama dia buka, dan di lihatnya sebuah nama yang di tulis tanpa huruf hangul, ‘Kim Jonghyun’ apakah ini nama laki laki itu? apakah ini miliknya? Banyak pertanyaan menggantung yang saat itu terlontar di pikirannya. Setelah itu, Luna kembali membuka halaman selanjutnya yang ada di buku harian itu, kosong. Secercah ide keluar dari otaknya, membuatnya menuliskan sebuah kata kata yang terngiang di pikirannya, untuk menumpahkannya dalam buku harian itu,

Dia seperti bayangan.
Berdiri di hadapannya adalah seperti menatap cermin
Bukan nyata, ini hanyalah sebuah gagasan kecil
Tapi perasaan itu bergejolak di dada membuatku yakin
Aku adalah dia
Dia adalah aku

^^

Bel pulang sekolah telah berbunyi, Luna baru saja menyadari dia tertidur di atap sekolah. Itu tandanya dia membolos untuk dua jam pelajaran, dan dia berarti juga berbohong kepada Jonghyun untuk megikuti jam pelajaran terakhir.

Gadis itu mendengus kesal, sampai dia menyadari sebuah buku harian tergeletak di sebelahnya. Luna mengerutkan keningnya, lupa mengapa di sebelahnya ada sebuah buku harian. Tapi lama kelamaan dia mengingatnya, bahwa tadi Jonghyun memberikan buku harian itu kepadanya. Dia membukanya. Membaca isi buku harian tersebut yang telah dia tulis barusan. Gadis itu tersenyum. Kemudian beranjak pergi meninggalkan atap sekolah.

Luna berlari menuju kelasnya. Sesampainya di sana, murid murid yang sedang piket memperhatikannya dengan tatapan bingung. Sebagian bertanya kepada Luna mengapa dia baru saja kembali, dan sebagian hanya menatapnya. Tapi, tak ada satupun pertanyaan yang masuk ke otak Luna, sehingga dia membiarkan teman temannya itu menggantungkan pertanyaannya. Luna hanya membereskan buku-buku yang ada di luar tas dan segera memasukkannya ke dalam tas itu. kemudian tanpa ragu, gadis itu meninggalkan kelas. Untuk suatu tujuan.

Tak lama Luna berjalan, dia sudah sampai tujuannya. Kelas sebelahnya. Kelas Jonghyun. Ya, dia mau menemui laki laki itu untuk menunjukkan isi dari buku harian yang telah dia tulis tadi.

Luna berdiri di depan pintu kelas itu, di lihatnya papan kelas yang menunjukkan bahwa Jonghyun sudah kelas 3 SMA, sedangkan Luna masih kelas 1 SMA. Ada rasa kecewa ketika dia mengetahui Jonghyun sebentar lagi lulus, meninggalkannya yang masih 2 tahun lagi bersekolah di tempat yang sama.

Menghilangkan pikirannya itu, Luna mengintip kelas Jonghyun yang masih ramai. Dia berharap laki laki itu masih ada di dalam sana. Tapi Luna tak dapat melihatnya dengan jelas, karena itu dia bertanya kepada siswa yang baru saja keluar dari kelas tersebut.

“err.. annyeonghasseo” ujar Luna kaku.

“ne, annyeong. Waeyo?” jawab gadis itu jutek.

Teman di sebelahnya menyikutnya, “jagiya, jangan jutek gitu”

“aish.. habis..”

Sang laki laki hanya mengelus dadanya, “jadi ada apa?”

Luna menggigit bibir bawahnya. Dia terlalu takut untuk menghadapi kakak kelas. Luna bukan orang yang pintar bergaul, makanya di saat seperti ini dia sangat takut,

“apakah bayangan masih di kelas?”

Mereka terdiam, namun kemudian tawa sang gadis menggelegar, “bayangan? Huahahahahah”

Luna mengerucutkan bibirnya. Dia bingung. Tentu semua orang tak akan tau siapa yang di maksudnya bayangan.

“Min! jangan tertawa” kata sang laki laki, “ng, yang kau maksud bayangan siapa?” tanyanya lembut.

Luna berfikir sejenak. Dia lupa. Sangat lupa menanyakan nama laki laki itu. dia hanya menanyakan laki laki itu kelas berapa. Hingga dia mengingat nama seseorang yang tertulis di buku hariannya, “ng.. Jong..Jonghyun?”

“oh maksudmu Kim Jonghyun?”

Luna mengangguk senang, jadi namanya Jonghyun?

“Jonghyun sudah pulang dari satu jam sebelum bel terakhir, katanya hari ini mau operas-“

“Jonghyun ada acara keluarga” sela sang laki laki.

Min menatap laki laki itu sinis, hingga sang laki laki berbisik suatu hal tanpa Luna ketahui. Luna hanya mendengus, kemudian tanpa ucapan apapun pegi meninggalkan kedua pasangan tadi.

Luna duduk di sebuah taman kecil di mana tempat pertama kali dia bertemu dengan Jonghyun. Dia tersenyum tipis mangingat kejadian saat itu. saat Jonghyun memanggilnya ketika dia akan bunuh diri, ketika Jonghyun berkata kepadanya bahwa dia adalah bayangannya.. itu semua adalah hal yang tak akan pernah di lupakan Luna.

Luna mengayunkan ayunan yang di naikinya perlahan, seraya membuka buku harian pemberian Jonghyun tadi. Dia tersenyum. Dia kini merasakan Jonghyun adalah seseorang yang berarti untuknya. Tanpa Jonghyun, mungkin kini dia tak akan ada di dunia ini lagi. Tapi entah kenapa, sesuatu menganjal di pikirannya. Tentang Jonghyun. Laki laki itu seperti menyembunyikan sesuatu padanya, tapi apa?

^^

“leeteuk oppa..” Luna berkata manja di hadapan Leeteuk yang sedang membaca koran.

“ne?”

Luna menunduk, “buku harian itu punya aku kan?” tunjuknya pada sebuah buku harian.

Leeteuk diam tak bergeming.

“aku.. sekarang mengingat sedikit demi sedikit masa itu..” Luna menunduk semakin dalam, berusaha menyembunyikan wajahnya, “nama itu, nama yang ada di buku harian itu, nama pemilik buku harian yang di berikan kepada Luna”

Perlahan air mata jatuh menggenangi pipi Luna, “Luna bermimpi tentang laki laki itu”

“Luna..”

“Jonghyun, namanya Kim Jonghyun, oppa..” sekarang Luna menatap Leeteuk, dengan wajahnya yang penuh dengan air mata.

Leeteuk melihatnya sedih, kemudian menarik Luna ke dalam pelukan hangatnya. Mengusap air mata yang ada di pipi Luna dengan kasih sayang yang sangat penuh.

“aku.. aku tau alasan Jonghyun memberiku buku harian itu..”

Luna kembali meneteskan air mata yang begitu deras. Tak mungkin ada yang bisa menahan air mata itu lagi. Luna mengingatnya ketika membuka lembar pertama buku harian tersebut yang bertuliskan nama Jonghyun tanpa huruf hangul. Luna mengingatnya ketika dia datang ke taman yang sama dengan pertemuannya dengan Jonghyun sore tadi. Luna mengingatnya.. mengingatnya dengan jelas ketika dia bermimpi tentang yang sama.

Inikah alasannya kenapa kadang aku tak menginginkan masa lalu?

TBC

——————————–

yeah it’s chap 2 and 1 chap for end akan di post nanti😀

semoga pada ga bingung dan males bacanya ya hehe yang mau komen komen yang ga mau gapapa ^^

Kamsahamnida~ :*

About Han

My world and days. People beside me. Precious family. You. That's I loved. JYH's ♥

Posted on May 22, 2011, in fanfic and tagged , , . Bookmark the permalink. 6 Comments.

  1. ntar my yeobo ninggal ya unn? Trs luna sedih n kecelakaan n amnesia gitu ya unn?

  2. HUAAAAAAAAAAAAAAAAAA~
    penasaran banget sama Lanjutannya..
    kayaknya ada sesuatu pada Jjong *sotoy*
    lanjutannya cepetan yah .. penasaran bangeeeettt!!
    oh iyah.. ehehe maaf yah karena baru baca sekaligus 2 part.. jadi di pasrt 1 nya aku gak komen..
    hehehe langsung ke sini aja deh…

    • serius? wah makasi banget yahhh😀 aku seneng banget kamu udah mampir hehe
      nanti dipart selanjutnya poster buatan kamu di pake >< asikk😀😀
      aku ga janji cepet ngepostnya keke padahal ceritanya udah ada lanjutannya mianhae😦
      gapapa ko aku udah seneng banget kamu mau komen ^^

  3. Aigoo…kayaknya bakal sad ending….
    Biasanya q suka FF dg sad end,tp wat kali ini…jgn sad end dong…hiks!kagak teeegaaaa………
    Mg update nya bs segera….Aigoo…kayaknya bakal sad ending….
    Biasanya q suka FF dg sad end,tp wat kali ini…jgn sad end dong…hiks!kagak teeegaaaa………
    Mg update nya bs segera….

    • iya ini sad ending chinguu. Maaf ya ini udah telanjur sad end, chap 3nya udah jadi. Tp belum di publish berhubung yang komen sedikit hehe.
      Tp ntar aku publish ko, tunggu ya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: