(fanfic) Tiffany: Wound

https://allkpopfanfic.files.wordpress.com/2011/12/tumblr_l6eiudyxju1qaqcoho1_1280.png?w=300

Cast:

– Tiffany Hwang

– Kim Jaejoong

– Jessica Jung

– Kwon Yuri

Length: Oneshoot

Genre: Love, Friendship, and Separate

Disclaimer: Terinspirasi dari berbagai perasaan yang pernah ada dan aku ketahui. terinspirasi dari wajah Tiffany Hwang yang mengisyaratkan perasaannya.

Backsound: Don’t Forget – DBSK

Word: 2.859

A/N: rasanya sudah sangat lama sekali aku tidak mengepost apapun di blog ini. tapi untuk menyalurkan apa yang ada di pikiran, aku mau ngepost kembali karya-karya yang sudah lama ada di lappy aku.

fanfic kali ini aku buat dengan sepenuh hati, jadi, aku harap kalian enjoy. dan untuk komen, aku menulis ini bukan untuk komen aja kok. kalian membaca aku sudah sangat senang🙂

dan fanfic ini akan ada cerita lainnya dengan main character yang berbeda. dan aku ambil dari member SNSD. jadi setelah ini akan ada 8 kisah lagi. yang dari satu fanfic ke fanfic yang lain pasti saling berkaitan. so enjoy!

Summary: Segala sesuatu yang tak pernah dipikirkan terjadi, rasa yang tidak pernah dipikirkan ada, masa yang dipikirkan hanyalah dalam mimpi, dan segala sesuatu yang tidak pernah di yakini muncul di kehidupan, tiba di depan mata. Perpisahan bukanlah akhir dari cerita, tapi merupakan awal dari kisah baru dengan bagaimana cara menjalaninya.

____________________________

“Kau tau bagaimana cara melupakan seseorang yang akan pergi jauh?”

Bibirnya mengatup dengan sempurna selesai mengatakan kata-kata itu. Aku tersenyum di sela-sela detak jantungku yang aku rasa detaknya melebihi biasanya.

Padang rumput ilalang terlihat tersenyum kebalikan dengan apa yang aku rasa. Dengan ceria mereka menyanyi diiringi alunan angin musim semi. Mereka bahagia, aku selalu iri dengan itu. Mengesampingkan kata-katanya aku terus menatap ilalang tersebut.

“Sudahlah, Tiff. Lupakan kata-kataku. Langit kurasa indah kalau kita tidak membicarakan hal yang salah.”

Caranya berkelakar membuatku geram. Aku tau apa maksudnya karena dia adalah laki-laki terburuk sedunia. Tangisku selalu usut di hadapannya.

Aku menatap sinar matanya di bawah cahaya rembulan. Siluet tubuhnya yang indah terlihat jelas. Kalau saja dia tau aku sangat-sangat ingin memeluknya, ini tak akan menjadi sesulit ini. Bahunya akan ada untuk tangisku malam ini dan malam-malam setelahnya.

“setiba kau disini, kau belum bicara apapun Tiff. Kau yang mengajakku pergi, apa aku pantas mendapatkan wajahmu saja?”

Aku menunduk sesaat membenarkan perkataannya, “apa ada yang perlu ku jawab?”

Basa-basiku terasa kelu di lidah; mengingat bagaimana aku adalah gadis yang tidak sesedih dan semurung ini sebelumnya.

Tangan besarnya memberi tekanan di pucuk kepalaku dan aku menengadah untuk menatapnya. Dia masih sama tersenyum semanis itu untukku.

“kalau-kalau pergi jauh-mu membuatmu melupakan semua kenangan manis yang kau miliki, maka jangan pernah pergi jauh..”

DEG. Harusnya, kata-kata manis seperti itu dari seorang laki-laki yang kau cinta mampu membuat siapapun menangis bahagia; karena itu berarti dia peduli. Tapi aku yang tidak pernah mengerti jalan hidupku, hanya diam dan menikmati setiap gerak-gerik tangannya di sela-sela rambutku.

“kau laki-laki brangsek.”

Aku jujur, jujur yang selalu membahagiakan aku karena aku tau itu tandanya aku tidak gila akan cinta. Aku tidak buta. Aku masih bisa membedakan mana yang brengsek dan mana yang tidak terlepas dari rasa cinta yang aku berikan.

Gelegar tawanya lebih mirip ejekan, tiba-tiba saja matanya menangkap mataku yang juga sedang melihatnya. Nafasku harusnya berjalan seperti biasa, tapi kali ini tercekat tak karuan.

“Tiffany..” nada suaranya berubah memelas dan matanya terlihat sangat sayang.

“aku tau!” Aku menyela pembicaraannya. Mencoba melepas tatapan mataku darinya. Aku takut pembicaraan dengan nada seperti itu.. “aku tau, aku tau bagaimana caranya melupakan seseorang yang akan pergi jauh.”

Dari ujung mata aku dapat melihat keterkejutannya. Namun dapat dikontrol setelahnya dengan mudah. Dia diam dengan mengalihkan pandangan, tapi wajahnya mengisyaratkan aku untuk melanjutkan pembicaraan ini.

Aku yang akan kehabisan oksigen setelah ini. Aku yang akan menangis semalaman tak henti-henti sesaat lagi.. aku. Yang sakit aku. Selalu aku.

“sebaiknya kau melupakan seseorang yang akan pergi jauh.”

~~

Terik mentari membangunkan dari tidur panjangku. Aku berfikir hari kembali indah, namun sudah terlanjur rusak. Rasa-rasanya tidurku tidak terlalu panjang jika di bandingkan dengan sisa hariku tanpa tidur. Nyatanya manusia tidur beberapa jam lebih lama di banding beraktivitas. Tapi waktu saat mataku terbuka adalah saat yang paling lambat, paling membuatku geram. Kapankah ada manusia yang bisa menghabiskan waktu tidur sangat panjang tanpa melewatkannya dengan cepat?

Aku menatap kalender dengan cepat, dan dengan tak kalah cepatnya lagi aku mengalihkan pandangan. Shit! Dua hari lagi dan itu waktu yang singkat. Semalaman aku menangis dan efek paginya selalu seperti ini. Kepalaku pusing tak karuan dan semua bertambah menyebalkan saat melihat kalender itu. Aku tidak mau kehilangan Jessica.. aku sayang padanya. Dan aku cinta Jae.

Menyebalkan memang mengakui itu semua. Tapi percayalah kalau aku jujur dengan rasa cinta dan sayang.

“Tiff ini waktunya sarapan.” Suara ayah membuat aku bergerak turun ke bawah, menyapanya yang sibuk dengan Koran pagi dan secangkir kopi hangat. Dan di dapur ada ibu, dengan celemek yang pagi-pagi sudah menghiasi pakaiannya –sedang menyiapkan sarapan pagi.

“Tiff belum mandi?” ibu yang menyadari aku masih berpiyama mengalihkan seluruh pandangannya untukku –memberhentikan kegiatan sebelumnya. Dia berkacak pinggang dan matanya berusaha melotot memarahiku. “ini sudah hampir pukul 7, sayang.”

“aku tidak enak badan.” Bohongku yang tertutupi dengan senyuman.

“kau yakin?” ayah ikut-ikutan mengintropeksi. Dia menatapku dengan intens, mengamati mataku yang jelas-jelas masih terlihat bengkak.

“tapi kamu yakin benar-benar ga mau masuk sekolah? Sisa harimu kan tinggal sedikit Tiff. Ibu tidak mau saat hari keberangkatan kau menundanya hanya karena menyesal.”

Aku tau ayah dan ibu mengerti. Ayah tau aku menangis semalaman, dan ibu tau aku tidak mau masuk sekolah karena aku takut dan membenci bertemu orang-orang yang aku sayang sebelum kepergianku.

Aku diam sambil menunduk mengamati bawahan piyama bercorak babi-ku yang lucu.

“sebenarnya apa maumu, nak?” ayah kembali bertanya dengan tuntutan kali ini aku harus menjawabnya yang terdengar dari nada bicaranya. Ayah mulai marah.

“aku takut bertemu mereka, ayah, ibu. Mereka teman-temanku dan aku tak akan sanggup tertawa bersama sedangkan aku hanya akan menangis mengingat saat-saat itu. Itu tandanya membuat aku tambah-tambah tidak ingin meninggalkan mereka..” tangisku pecah. Sebenarnya yang aku maksud itu bukan teman-teman, tapi Jae dan Jessica. Aku malu sekali menangis di hadapan orang tuaku mengingat aku sudah dewasa, tapi kali ini aku tak bisa menahannya.

“Tiffany sayang, ingatlah kau meninggalkan Korea karena kau benci teman-temanmu.” Ayah menyadarkanku, ibu di sampingnya memeluk pinggang ayah menenangkan.

Itu benar. Aku membenci teman-teman korea ku. Aku benci Jessica, tapi aku sayang padanya..

“maksud kita baik. Ibu sudah tau kalau kita ke Korea hanya akan jadi cemoohan; kita tidak terbiasa dengan Negara berperaturan ketat seperti ini. Ayah dan ibu telah memikirkan baik-baik tentang kebaikan kita, bahwa kita memang mesti kembali. Tapi ibu tidak pernah tau kau mencintai Negara ini berkebalikan dari yang seharusnya.” Wajah ibu  sangat lelah, aku menatapnya dan aku tau mereka sangat tertekan ada di sini. Ini salahku, tapi ini salah mereka juga yang sudah mengenalkan aku dengan Negara kelahiranku yang tidak pernah aku temui sebelumnya. Mereka mengenalkannya padaku dan aku jatuh cinta pada isinya secara tidak langsung.

“kalau boleh kami tau, apa yang paling membuatmu tidak ingin meninggalkan Korea?” ayah semakin mengintropeksi, “kami tau kau sebenarnya membenci tempat ini, tapi kau punya alasan. Ayah tau, tapi tidak tau itu apa, maka katakanlah, sayang..”

Bibirku terkatup rapat-rapat. Apa aku harus bicara tentang Jae? Tapi kalaupun aku bicara tentang Jae, ayah dan ibu hanya akan menasihatiku. Mereka akan bicara bahwa masih banyak laki-laki yang lebih baik dari Jae, yang tentunya setara dengan keinginan mereka. Aku tak mungkin bilang, aku tidak mungkin membiarkan mereka menjelek-jelekan Jae-ku. Tidak akan.

“maafkan aku, ayah dan ibu. Aku tidak punya alasan seperti itu, aku janji aku akan ke Amerika sesuai keinginan kalian, aku janji.”

Tanpa memperdulikan lagi, aku lari ke atas untuk ke kamarku. Aku salah. Aku lah yang membuat luka kecil menjadi semakin besar tanpa mengobatinya terlebih dahulu. Aku lah yang membuat api semakin melahap barang-barang tanpa berusaha memadamkannya.

~~

“Tiffany!!!” Yuri menghampiriku dengan senyum khas miliknya. Dan seperti biasa style yang di gunakannya selalu simple namun menarik. Kulitnya yang kecoklatan membuat ku sangat iri.

“hai Yul,” aku tersenyum kecil, kemudian menghambur ke pelukannya. Yuri satu-satunya teman yang mengerti aku, tapi aku tidak pernah bilang dia baik. Yuri menemaniku tapi tetap membenciku dan aku tau itu. Siapa orang yang tidak membenci Tiffany Hwang?

“kenapa hari ini tidak masuk? Aku mencemaskanmu, guru-guru mencarimu dan Jae selalu tampak gelisah dari pagi tiba di sekolah. Aku tau kau tidak mungkin sakit, kekebalan tubuh orang-orang Amerika kan hebat.” Di akhir kata aku mendengar sindiran samarnya, tapi wajahnya masih menunjukan senyum.

“Jae?” aku hanya menggubris kata yang menurut aku menarik, “Jae gelisah?”

Yuri mengangguk, “Jae terlihat seperti itu. Mungkin dia merasa bersalah karena dia tau kau mencintainya. Mungkin dia memikirkan kalau kau sakit karenanya. Orang-orang pun tau kau orang yang lebay, Tiff. Kau bisa saja sakit karena patah hati.”

Aku terdiam mengesampingkan sindiran yang di berikannya. Aku tau kok Jae memang tau aku mencintainya.

“darimana Jae tau aku mencintainya?” aku bertingkah tak tahu apa-apa. Tiffany harus berusaha cuek, centil dan ceria. Tidak ada Tiffany yang sensitive dan cengeng di hadapan orang-orang. Tiffany itu jahat dan menyebalkan.

“Dia tau tentang kamu, dia mengerti dengan sikapmu. Jangan pikir memperhatikanmu tidak cukup untuk tau semuanya. Dia punya pola yang cerdas, daya kerja otaknya cepat dan indra perasanya kuat; dia laki-laki sensitive.”

Aku terdiam mendengar jawaban Yuri. Aku memang orang yang selalu menunjukan apa yang aku rasa; ketidaksukaan dan kesukaan. Maka tidak sulit untuk siapa saja tau apa yang aku benci, siapa yang aku cinta, dan siapa yang aku benci. Aku membenci diriku sendiri tentang ini dan masih banyak hal lagi yang aku benci dari diriku sendiri.

“kalau begitu kau tau aku berubah karenanya?” aku semakin memancingnya, mengorek tentang hal apa yang dia tau tentang aku dan Jae. Karena Yuri bisa di jadikan perwakilan orang-orang sana yang membicarakan dan mencemoohku.

“siapa yang tidak tau?” dia mengangkat tinggi kepalanya, “Tiffany Hwang; siapa coba yang tidak mengenalnya? Dan lagi berubah karena laki-laki. Semua pasti sadar. Kau adalah pusat perhatian murid, dan Jae adalah bagianmu juga.”

“tapi Jae bukan kekasihku.” Aku menghela nafas, sadar akan satu hal yang membangkitkan kesedihan tak berujung.

“ya, semua tau. Kau deketin Jae saat dia sedang kasmaran dengan BoA, sedang manis-manisnya hubungan mereka dan kau dengan mudah mengacaukan semuanya hingga BoA kembali ke mantannya. Padahal semua mendukung hubungan mereka. Jae juga yang terlalu mudah terpengaruh.”

Mengingat BoA aku jadi sedih. Aku memang egois akan hal ini, aku yang jatuh cinta ke seseorang dan tidak akan memikirkan untuk yang lain. Apa itu tidak wajar?

Yuri menatapku dan aku kehilangan semua kata-kata. Dari wajahnya tersirat kepuasan yang mendalam. Aku kalah kali ini, tak pernah ada yang di pihakku. Aku membencinya tapi benteng pertahananku akan selalu ada, dengan syarat aku masih bisa melihat Jae.

“jadi, kau mau menemui Jae hm?” dia mengalihkan pembicaraan.

“untuk apa?” aku menjawab dengan reflek. Aku memang benar-benar tak ada niatan untuk menemuinya.

“Jae tampak gelisah. Tidakkah kau mau menemuinya? Aku rasa dia rindu padamu.”

“kurasa tidak.” Aku menggumam asal.

“sekarang mencampakannya? Apa maumu nona perfect?”

“tck, aku benci menemuinya. Aku akan ke Amerika dan aku tidak butuh tampangnya sebelum kepergianku. Dia bilang dia mau melupakanku kalau aku mau ke sana.”

“Tiff?” Yuri memegang tanganku, dia menatapku tak percaya. Matanya berlinang air mata tapi aku yakin itu bukan sungguhan.

“kenapa?”

“berapa lama Tiff?” rupanya dia mengesampingkan kalimat yang ada Jae-nya.

“selamanya.” Aku jujur, “tapi kalau aku rindu kampung halamanku, aku akan kembali. Tapi tidak ada yang ingin kutemui, sumpah. Kakek-nenekku sudah tiada dan saat itu orang yang aku cintai bukanlah tinggal ataupun orang sini. Tapi yang diterima semua pihak.”

Yuri memandangku tanpa mengatakan apapun.

“dan sebelum pergi, aku mau mengucapkan terimakasih.” Aku menghembuskan nafas, “hanya untuk orang-orang tertentu seperti kau, Jessica, dan Jae.” Aku siap menangis tapi wajah Yuri terlihat seperti meminta aku untuk melakukan hal lain selain menangis. Kalau iya aku menangis sekarang, ini akan jadi kali pertama aku menangis di hadapannya.

“Tiff..” Yuri menghapus air mataku yang mulai turun, “jangan menangis.. katakan, katakan padaku, apa aku alasannya? Apa karena sikap kami?”

Apa setelah melihat aku menangis semua orang yang membenciku akan berubah khawatir? apa aku hanya memerlukan tangisan untuk mendapatkan perhatian?

Aku menggeleng agak ragu.

“lalu?”

“sudahlah, aku tidak mau mengungkit banyak lagi.” Aku menghapus sisa-sisa air mata, “tapi yang jelas besok pagi aku pergi. Jangan beritahu Jae kumohon.. aku akan melupakannya selamanya, aku jan..“

Yuri menatapku tak percaya, “kau mau berjanji?”

Aku diam menunduk, dadaku terasa sangat sakit sekali. Tidak, tidak bisa, aku membenci saat-saat seperti ini. Tapi.. “maaf untuk semuanya, tapi aku tidak bisa berjanji untuk hal yang menyangkut dirinya..” aku menengadah dan menatap mata Yuri. Sesuatu yang aku tak bisa ku deskripsikan terasa terpancar di dalam matanya. Dalam hitungan detik dia memelukku dan aku kembali menangis. Sekarang, di pundaknya.

~~

“Tiffany, barusan Jessica menelfonmu. Handphone-mu mati?”

“Jessica?”

“iya, sayang. Sepertinya kabar tentang keberangkatanmu sudah menyebar ya?” Ibu berbicara tanpa mengalihkan pandangannya dari barang yang akan di masukannya ke dalam koper. Aku menghentikan kegiatanku dan menatap Ibu dengan heran.

“Jess?”

“iya, Jessica Jung, Tiff.. temanmu yang namanya Jessica kan hanya dia saja.” Ibu berkacak pinggang melihat kelakuan tak tahu-manahu ku.

“tapi..” aku berfikir sesaat. Siapa yang memberitahunya? Berbicara pada Jae pun tidak. Apalagi Jessica. Aku mana mungkin memberitahukannya.

“tapi apa?”

“tapi..” ah sudahlah, itu bukan masalahku. Yang jadi fikiran sekarang adalah, kalau Jessica tau, semua tau. “tidak apa-apa bu,”

Ibu menghembuskan nafasnya kemudian mengacak rambutku, “yang Ibu fikirkan sekarang ini adalah; apakah Jessica mencintaimu sedangkan kamu membencinya? Dia khawatir di telepon tadi. Terdengar sangat terburu-buru dan cemas.”

“aku juga mencintainya, bu.” aku mengungkap fakta, “tapi Jessica dan aku dasarnya tidak cocok, kami melukai masing-masing. Sungguh pada dasarnya ini bukan keinginan kita.”

“tapi bukankah itu namanya sahabat?” ibu mencium pucuk kepalaku, mengelusnya berkali-kali. Kasih sayang sekali.

“entahlah, keputusan kembali kan sudah bulat dan tidak bisa di ganti lagi, ya? Sekalipun Jessica aku sebut sahabat.” Senyumku memaksa. Kenyataannya seperti itu dan aku membencinya. Tandanya Jaejoong-pun tak akan menjadi alasan lagi.

Ibu mengangguk dan melepaskan pelukannya dari tubuhku, “sekarang, kembali bersiap. Ingat besok, sayang.”

~~

Sekarang hitungan hari ke dua aku tidak masuk sekolah. Dan beberapa menit lagi, dua hari itu akan benar-benar menjadi penyesalanku. Jae menelponku, mengirimkan pesan dan e-mail, terus berkali-kali sampai aku selalu menyesal ketika mematikan handphone-ku atau hanya membaca pesan dan e-mail tanpa membalasnya. Dua hari itu.. terlihat seperti aku menolak untuk mendapatkan kebahagiaan. Apa yang di pikirkan Tiff? Dua hari tidak mungkin cukup untuk menghilangkan beribu kenangan. Dua hari penuh kenangan jauh lebih baik dibanding mencoba untuk melupakan; yang akhirnya pedih sekali.

Di tempat seperti ini aku masih menunggu kehadiran Jae, memelukku dan mengatakan sayang padaku. Sebelum pesawatnya benar-benar datang dan membawaku pergi.

Ayah dan Ibu berangkat terlebih dahulu, mereka ada tugas yang mengharuskan berangkat ke Amerika kemarin malam, jadi aku hanya sendiri. Ayah dan ibu tidak tau aku menangis semalaman betapa aku menyesali banyak hal. Tentang seluruhnya.

Jam menunjukan pukul 09:50, kalau sesuai jadwal kedatangan pesawat yang akan aku tumpangi, jam 10:00 akan tiba. Tapi aku sekarang berharap dalam diam, pesawat akan datang telat setelah Jae datang.

“Tiff..” aku mengenali suara yang memanggilku kini, lalu aku menatapnya dan jantungku langsung berdetak kencang.

“bersama Jaejoong?” maksudku menyindir Jessica, tapi dia menggeleng menatapku iba, seperti aku mencari dan mengharapkan Jae saja bukan dia.

“kenapa tidak mengatakan mau pergi?” jarak kami semakin dekat, dia menyentuh pipiku, “kau menangis.. dia pasti sedih.”

Aku diam menatapnya. Dia maksudnya adalah Jaejoong. Sebenarnya Jessica dan aku.. bermasalah karena Jae. Aku yang jahat; tapi aku memang selalu egois dan aku tidak akan mau berbaik hati.

“Jessica, jangan katakan seolah dia menyukaiku.”

“Tiff, dia mencintaimu. Bukan hanya menyukaimu.” Dia menunduk, rautnya sedih tapi bibirnya dipaksakan tersenyum, “dia ke rumahku hanya untuk mencarimu.. kau tau, aku senang sekali karena dia datang, tapi dia menanyakanmu, bukan seperti apa yang aku harapkan.”

Jessica akan menangis, tapi dia menahannya. Aku bisa melihat betapa dia terluka di antara aku dan Jaejoong. Betapa besar lubang luka di hatinya. Untuk aku, temannya dekatnya, dan untuk Jae, cinta sebagian hidupnya.

“dia.. tidakkah kamu mau menemuinya? Jae terluka dan dia benci tak menemuimu.” Dia kini menengadah, menatapku dengan yakin. Ini kali pertama Jessica kembali memanggil nama Jae di depanku setelah kami dalam masalah.

“aku mau melupakannya. Bagus kan? Jadi semua akan kembali baik-baik saja.”

“itu jahat! Kau mau melupakannya saat Jae sudah mencintaimu? Kau tidak tau betapa lama dan sulitnya aku membuat Jae menyukaiku? Tapi kau dengan mudahnya membuat dia jatuh dan terbang tinggi? Jangan Tiffany Hwang.. jangan.” Suaranya meninggi dan dia mulai menangis tapi aku tak tau harus apa. Sekarang aku benar-benar sadar, betapa jahatnya seorang Tiffany.

“TIFFANY!”

Dan demi apapun, aku sangat-sangat mengenali suara ini. Setelah suasana hening antara aku dan Jessica, aku menoleh dan mendapatinya berwajah pucat tanpa menghilangkan senyum untukku. Jaejoong. “Jae..” sekarang aku yang menangis, membiarkannya melihat kejelekanku. Karena aku sangat-sangat rindu suara itu di telingaku, menjadi tokoh utama dalam bayangan di retinaku. Betapa aku merindukannya.

“Jessica?” Jae bingung dan menatap Jessica yang menangis.

“oh, ah aku harus kembali, aku..” Jessica lari dan pergi meninggalkan aku berdua dengan Jae tanpa menyelesaikan kalimatnya. Aku kembali sadar aku lah yang jahat, bukan Jessica. Sama sekali.

Jae mendekat, dia memelukku dan aku tak bisa mengelak lagi. Ini pertama kalinya dan aku baru saja merasakan sesuatu yang sangat indah. Ini satu-satunya waktu yang terasa sangat lama dalam hidupku, hal yang paling membahagiakan. Jae memang brengsek; karena dia membuatku tak bisa melepaskannya sampai kapanpun. Dia yang terburuk; karena membuatku terlalu lama merasakan sedih sebelum mendapatkan kebahagiaan. Jae yang segalanya, yang membuatku merasakan segala macam rasa yang baru kutemui, yang membuat aku merelakan segala apa yang aku punya.

“sekarang ada kata-kataku yang akan ku ubah, untukmu.” Bisiknya di telingaku. Aku semakin terisak.

“a-apa?”

“kalau-kalau pergi jauh-mu membuatmu melupakan semua kenangan manis yang kau miliki, tapi kau harus tetap akan pergi, demi alasan apapun, maka.. ingatlah saat indah itu karena walau kenangan bisa dilupakan atau terhapus, tapi perasaan tak akan bisa di ubah dengan mudah.” Jae memelukku semakin erat, aku.. aku benar-benar mencintainya, tak ingin hanya untuk saat ini, Jae..

“Tiffany, aku mencintaimu. Suatu saat nanti, datanglah untukku, kesini, ke hatiku. Aku akan menerimamu sungguh.” Aku mengangguk tanpa ragu. Katanya-katanya bagaikan sihir. Setelah itu dia menyanyikan sebuah lagu di telingaku yang katanya berjudul ‘Don’t Forget’. Sebuah lagu yang sangat indah dan bermakna, meski lagu itu tidak dapat mencegah sama sekali akan kepergianku.

Lalu aku akan meminta maaf. Yang pertama untuk Yuri, aku.. suatu saat nanti akan kembali untuk Jae, bukan yang lain. Maaf Jessica, aku melukaimu sangat-sangat banyak, dan aku selalu egois, tapi aku berterimakasih memilikimu. Maaf ayah, ibu, aku mencintai Negara ini tidak seperti seharusnya, maaf. Dan Jaejoong.. aku mencintaimu.

-END-

oh, mianhae kalau jelek T.T

soon, aku akan ngepost fanfic Jessica. wait ya😉

About Han

My world and days. People beside me. Precious family. You. That's I loved. JYH's ♥

Posted on December 19, 2011, in fanfic and tagged , , , . Bookmark the permalink. 6 Comments.

  1. Sediiihh kasian Jessica… -.-
    Tiffany karakternya sosok yg egois ya? hmm boleh juga tuh =)
    bagus ffnya.. tp kurang ngerti ma konfliknya nih, cuma ngerti kalau Jessica suka Jae tp jae suka tiff, selebihnya ngerti tp gabegitu heheh..
    Keren ko ceritanya, emosi tokohnya dapet.
    ditunggu yg Jessica ya^^

    • hehe sebelumnya makasi udah mau komen =)
      iya Tiff agak egois. maaf ya kalau ga suka keke. sebenernya aku sengaja buat konflik yang ga terlalu kelihatan, tapi titik terangnya ada di penyelesaian aja. jadi nanti di cerita yang Jessica itu ada masalah ini juga, yaitu sebelum kejadian Tiff kembali ke US ^^
      tungguin ya, akan di publish besok atau lusa🙂

  2. Suatu penelitian yang dilakukan pada pria, 80 persen menyatakan, jika memungkinkan pria akan menikahi kembali istri pertamanya.

  3. duh ,ini harusnya d masukin Angst juga thor ,asli akk yg lebay ato emaank bener sensitif akunya yaak ?? akk bener2 bisa rasaiin jadi pany ,bagus ,keren kok😀

  4. Ahh, Daebak Chingu😀
    FF ini persis banget sama kisahku di dunia nyata ..
    aku kan sekolah di luar kota ._.V
    Feelnya dapet..
    kebetulan aku JaeFany shipper juga😀

    Bikin FF JaeFany lagi donk .. *reader gak tau diri*
    Ditunggu yaa ..
    Gomawo ..

    Mian, kalo comentnya cerewet banget

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: