(fanfic) Jessica: Sacrifice

http://cfile22.uf.tistory.com/image/1749EB384EF2EAF3129E33

Cast:

– Jessica Jung

– Kim Jaejoong

– Tiffany Hwang

– Lee Sunny

Length: Oneshoot

Genre: Love, Friendship, and Separated

Disclaimer: Terinsprirasi dari luka-luka yang ada dalam dunia ini. Dari sesuatu hal yang tidak dapat dimiliki meski sangat ingin.

Words: 2.031

A/N: halooooo, ini lanjutan atau apalah sebutannya dari fanfic Tiffany yang Wound. tapi kejadian yang ada di fanfic ini terjadi sebelum fanfic Wound. yang berkenan silahkan tinggalkan komen kalian karena aku sangat-sangat menghargai sebuah komen🙂

___________________________________

Summary: satu hari, sebuah kisah yang tidak di duga muncul dalam kehidupan. Sebuah cerita memang tidak harus selalu berakhir dengan indah dan membahagiakan. Maka, yakinlah pengorbanan untuk cerita sedih akan selalu indah di akhirnya.

___________________________________

“Sica, nanti pulang sekolah temani aku ke toko buah yang dekat stasiun, ya?” baru datang ke kelas Sunny sudah menghampiriku, merajuk dengan nada manjanya.

“mau melihatnya lagi?” aku mencibirnya jutek, lalu meletakkan tas-ku di tempat duduk sebelahnya, “siapa? Sungmin?”

“kyaaaaa! Diam, Sica!” dia menutup bibirku dengan tangannya. Aku tertawa ringan sambil melepaskan tangannya dari daerah wajahku.

“maaf, Sunny, tapi aku ada janji.” Jawabku jujur.

“dengan Jaejoong-sunbae?”

Aku menoleh ke arahnya dan menatapnya dengan penuh penyesalan. Kemudian mengangguk tanpa ragu, “dia akan mengatakan sesuatu padaku.”

Aku menunduk untuk mengambil buku mata pelajaran pertama-ku tapi dapat kutangkap dari sudut mata senyum Sunny merekah manis, dia mengelus jemariku, memberiku ketenangan, “semua akan baik, Sica. Aku yakin.”

Bukan apa-apa, tapi firasatku mengatakan hal buruk akan terjadi sepulang sekolah nanti. Aku yang sekarang mulai berubah, hanya karena laki-laki bernama Jaejoong itu, merasa dia harus bertanggung jawab atas segala berubahnya aku. Padahal Jessica Jung dulu tidak sediam ini.

“Jessica..” Sunny menuntut jawaban karena aku tidak menggubris pertanyaannya sama sekali. Dia menatapku sedih, “Jessica seperti ini hanya karena Jaejoong-sunbae..”

“tidak, aku baik-baik saja.” Sikap cuekku keluar untuk menutupi kelemahan, mencoba menghilangkan rasa sakit yang lama-lama menjalar hingga rasanya tidak bisa ditahan lagi, “aku tidak pernah bermasalah dengan laki-laki.” Aku tersenyum, dan Sunny ikut tersenyum.

“kalau begitu.. kalau kau tidak ada janji, temani aku ke toko buah Sungmin, ya?”

Aku mengangguk kecil tanpa menoleh ke arahnya.

“terimakasih Jessica.”

Sunny adalah temanku, yang datang bukan ketika dia membutuhkan saja. Setelah masalahnya dengan temannya dulu, aku tidak menyiakan waktu dan menariknya untuk menjadi temanku. Aku butuh teman, satu saja, jadi aku tidak melihat dia dari sisi apapun yang orang lain benci darinya. Karena aku memiliki masa yang sama dengannya.

Aku terlihat jahat dan sembong di awalnya, namun ketika aku berubah, ternyata tidak mudah untuk merubah image diri sendiri. Aku dan Sunny, seperti itu.

Dan tentang Jae yang sebenarnya adalah kekasihku, dia tampak berubah belakangan terakhir. Semenjak murid baru bernama Tiffany Hwang yang sangat cantik mendekatinya, aku merasakan perubahan itu. Status aku dan Tiffany adalah teman, karena kami lahir di Negara yang sama. Aku mencintainya tapi aku benci ketika kenyataan dia lebih memiliki segalanya dariku.

Setelah beberapa lama aku memikirkan hal itu, bel masuk berbunyi. Aku membolak-balik halaman buku yang sudah ku keluarkan tadi dan akan memulai belajar. Seperti kata Sunny, aku harus yakin semua akan baik-baik saja. Sugesti cukup untuk menjadikan kenyataan.

oOo

Sekolah sudah mulai sepi. Aku diam sendirian di ruang musik, tempat dimana pertama kali aku dan Jaejoong bertemu. Pikiranku melayang ke masa saat itu. Itu yang terindah. Karena Jaejoong ada di waktu yang tepat, saat aku merasakan hidupku benar-benar sudah lenyap. Tapi dia tidak pernah melihat kelemahanku. Aku benci menangis di hadapan laki-laki.

Di luar hujan deras. Meski aku di dalam ruangan tapi aku merasa kedinginan. Sebelumnya tak pernah seperti ini, Jaejoong orang yang tepat waktu. Dia senior yang dicintai semua murid karena kesempurnaannya.

Jantungku berdetak kencang, aku sangat takut.. tapi ketika ku lihat wajahku di cermin aku merasa tidak sedang dalam ketakutan. Sebenarnya aku selalu terlihat baik-baik saja. Karena aku menginginkannya.

Derap suara kaki terdengar di telingaku dengan keras karena seluruh sekolah hampir sepi. Aku menghampiri daun pintu dan meletakan tas ku di lantai. Aku keluar dan menatapnya berjalan dari koridor menuju ruangan dimana aku berada. Untunglah dia sedang sendirian.

“menungguku lama?”

Dia berubah, senyumnya yang biasa merekah dihadapanku kini menghilang. Rasanya sakit, tidak pernah bayangkan Jessica merasa sakit, kan?

“aku baru keluar, aku tadi kumpul dengan klub vocal dulu.” Bohongku, “kamu habis dari mana?” seperti biasa aku selalu lembut untuknya.

Jarak kami semakin dekat dan dia membawaku memasuki ruang musik. Dia duduk di kursi piano, dan aku berdiri di hadapannya dengan jarak sekitar lima meter. “ketua klub vocal sudah pulang dari sejam yang lalu. Maaf membuatmu menunggu.”

Aku menunduk menyembunyikan senyum. Aku menyukainya yang selalu memahami kesalahannya, aku selalu suka dengan apa yang dimilikinya. Maka aku akan sangat-sangat sakit kalau kehilangannya.

“jadi.. apa yang akan kau katakan?” tanyaku.

“nyanyikan satu lagu untukku.” Jaejoong menarik tanganku untuk mendekat padanya. Jantungku kali ini berdetak dengan sangat cepat.

“lagu apa?”

“laguku, ini. Aku baru membuatnya dibantu sedikit oleh Yunho dan Yoochun.” Jaejoong mengeluarkan kertas dari tas nya. Melihatkanku sebuah lirik lagu yang sudah terdiri dari not baloknya. Jaejoong calon musisi yang sangat hebat, dia pernah menceritakan cita-citanya padaku, dan aku harap itu akan terwujud.

Sambil berfikir positif bahwa dia telat datang karena membuat lagu itu, aku menghilangkan kecemasan yang muncul sedari pagi. Jaejoong mempersilahkan aku duduk dan mulai memainkan piano dengan lagu sesuai keinginannya. Aku mulai bernyanyi.

Saat aku memainkan lagu untuknya dia menatapku namun aku tidak dapat mengartikan tatapan itu.

“judulnya apa?” aku bertanya setelah selesai memainkan lagu tersebut, menatapnya yang duduk di sampingku.

“aku belum tau, menurutmu apa?” Jaejoong balik bertanya. Aku tertawa kecil untuk sesekali menghilangkan kecanggungan.

“bagaimana dengan Don’t Forget?” aku mengamati kertas lirik itu, kemudian bertanya lagi, “ini lagu untuk siapa?”

Pertanyaan yang kedua membuat raut wajah Jaejoong berubah. Seperti kucing yang ketahuan mencuri ikan, aku tau Jaejoong menyembunyikan sesuatu. “untuk..” dia menghembuskan nafas keras-keras, firasatku tidak enak. “Tiffany Hwang.” dia hendak melanjutkan perkataannya, “aku harap kau jangan marah.”

Mendengar namanya aku ingin mati bunuh diri saja tapi sayangnya aku bisa mengontrol semua itu. Kemudian aku tertawa yang terdengar memaksa, “harusnya dia yang menyanyikannya. Bukan aku. Suaranya jauh lebih indah dari aku.”

Aku merasa di bodohi. Ternyata firasatku memang benar, aku.. membencinya.

“kalau aku memintanya menyanyikan, bukan sesuatu yang menjadi kejutan lagi nanti. Jadi—“ Jaejoong mendekatiku dan dia mengelus rambut blonde-ku, “Jessica, kita akhiri saja hubungan ini.”

Aku menghembuskan nafas berkali-kali, menatap langit-langit agar mencegah air mataku turun. Sakit.. aku sakit tapi Jaejoong mengatakannya dengan sangat mudah. Dia menyentuhku tapi mengatakan kata-kata yang aku harap tidak pernah keluar dari bibirnya. Aku.. “aku..”

“aku tidak mungkin terus membohongimu.” Dia menyela pembicaraanku, merangkulku ke dalam pelukannya, “aku tidak mau menyakiti Tiffany.”

Aku mendorongnya menjauh dari tubuhku, menatapnya dengan benci. Ingin memuntahkan segala kekesalanku tapi aku tidak sejahat itu. Cukup dia saja yang melukaiku, aku tidak akan melukainya seperti apa yang dia lakukan.

“aku tidak mau membuatnya susah dan bingung.” Jaejoong memelas dan emosiku memadam melihat wajahnya seperti itu, “jadi.. maafkan aku.”

Aku mengangguk kecil dengan ragu tanpa menoleh ke arahnya lagi. Hingga aku menatap hadapanku telah kosong, hanya pemandangan hujan di luar yang semakin lama semakin mirip badai. Dia meninggalkan luka yang sangat dalam dan menyisakan air mata yang baru saja turun. Aku menutup wajahku agar tangisnya tidak terdengar. Dalam keadaan diam aku berlutut; menangis tanpa henti untuk kebahagiannya.

oOo

Dari tadi pagi aku termenung, mengingat kejadian kemarin yang terasa sangat lama. Sunny bertanya padaku berkali-kali tentang apa yang terjadi, tapi aku selalu bilang aku baik-baik saja. Bahkan saat ini bukan hanya Sunny saja yang mulai peduli padaku, murid-murid yang lain juga bertanya tentang hal yang tidak jauh beda sangkut-pautnya dengan Jaejoong.

“Jaejoong-oppa itu dengan siapa? Pertama Jessica, lalu katanya BoA, tapi semenjak ada murid pindahan, kini berpaling lagi. Kasian sekali ya perempuan yang di permainkan.”

Sayup-sayup aku mendengar perkataan murid-murid di koridor sekolah. Sepanjang aku berjalan, topik yang dibicarakan pun tak jauh beda. Aku menghela nafas panjang.

“Jaejoong dengan Tiffany.” Aku angkat bicara dengan suara lumayan keras, mereka menatapku, “dan tidak ada satu pihakpun yang terluka. Jadi.. berhenti mengira Jaejoong brengsek atau yang lainnya.”

Akhiran kalimatku membuat mereka berbisik-bisik. Aku menunduk dan tak berapa lama Sunny menghampiriku lalu menggoncang bahuku, “Jess?”

Aku menatapnya dan membentuk tangan dengan isyarat ‘ok’, lalu kembali ke kelas untuk mengambil tas berbuhung bel pulang telah berbunyi. Tapi Sunny tidak membutuhkan isyarat itu, dia mengejarku dan menyamakan langkah kaki,

“jadi benar Jaejoong dan kamu putus?”

Aku menatapnya mengiyakan, sambil memakai tas di pundakku. “dia bilang, dia tidak mau membohongiku dan tak mau membuat Tiffany susah dan bingung.”

“apa maksudnya?” ku lihat Sunny yang marah, dia kelihatan kesal.

Aku diam tidak tau harus bilang apa. Aku tau Sunny pasti mengerti tapi dia butuh kepastian. Maka aku menatapnya seolah aku terlalu malas untuk menjelaskan.

“lalu hanya seperti ini?” bentakan Sunny membuatku memberhentikan badan sebelum aku sampai di daun pintu, “hanya seperti ini perasaanmu padanya hingga tidak ada rasa sakit yang tersirat? Kau bodoh atau buta sih karenanya?!”

Rahangku mengeras menahan emosi, tanganku mengepal menahan rasa betapa aku ingin mengungkapkan rasa sakitku yang selalu ku sembunyikan di balik topeng cuek ini. Betapa aku ingin meneriaki semua orang kalau aku benci Jaejoong bersama orang lain apalagi itu Tiffany. Tapi aku tidak bisa, harga diriku di atas segalanya. Aku menjunjungnya setinggi Tiffany melakukannya. Hanya cara kami sangat berbeda.

Tanpa menoleh ke arahnya lagi aku pergi meninggalkan kelas, pergi menuju ruangan baru yang ku sebut tempat persembunyian baruku.

Sebelum sampai di tangga aku bertemu Tiffany, yang menyapaku dengan eye-smile nya.

“aku tidak mau bilang maaf karena bukan aku yang memintanya.” senyumnya berubah seringaian. Sejak awal dia menganggapku jahat, tapi aku berteman dengannya.

“tidak ada yang perlu kau katakan.” Aku membalas dingin tanpa melirik ka arahnya. Dia tertawa kecil.

“aku masih percaya kalau tidak ada yang menyakiti, tidak ada yang bahagia. Aku juga yakin kau masih percaya itu ‘kan, Jessica Jung?” dia memegang pundakku, “jadi ini terjadi bukan sesuai rencana siapapun.”

Aku melepas tangannya dari pundakku tanpa berniat kasar. Lalu tanpa menjawab aku pergi meninggalkannya. Membiarkannya mendengar jawaban bisu dari angin yang berhembus. Sadarlah Tiff, kalau di dunia ini saling menyakiti adalah cara untuk mendapatkan kebahagiaan, apa ada yang akan mendapatkan bahagia dengan tulus? Selamanya Tiffany akan selalu busuk, jika matanya selalu tertutup kebahagian tanpa rasa tulus.

oOo

Awalnya hari ini aku akan menghampiri Tiffany. Tapi orang-orang bilang kemarin Tiffany menitipkan surat untuk hari ini tidak masuk sekolah. Jadi aku putuskan aku akan menghampirinya lain hari. Aku ingin mengatakan sesuatu, tentang apa maksud dari semua yang telah dia rebut dari aku.

Kenapa hari ini udara sangat dingin? Kalau Sunny sedang bahagia-bahagianya, maka aku sekarang sedang sedih-sedihnya. Aku ingin tidak masuk sekolah dan menghilang, tapi aku tidak sepengecut itu yang lari dari masalah.

“jadi untuk itu? Tapi kenapa harus bersikap jahat pada Jessica?”

Hari masih pagi dan sangat sepi tapi aku harus mendengar suara ini. Apa yang di lakukan Sunny?

Aku tepat berada di koridor pertigaan, dan di sebelah kiri aku mandengar percakapan itu. Aku bermaksud berhenti dan mendengarnya karena aku sangat ingin tau lebih jauh.

“aku terluka.” Suara itu suara Jaejoong. Suara lemahnya yang baru pertama kali aku dengar. Dari suara saja tersirat sakit yang mendalam. Ada apa? Rasanya aku ingin menangis mendengarnya bersuara sesedih itu.

“kau pikir Jessica tidak?!” bentakan Sunny membuatku mundur selangkah. Aku tidak pernah memintanya berkorban seperti ini sama sekali. Sungguh.

Hembusan nafas Jaejoong begitu keras sampai aku mendengarnya dari jarak yang jauh ini. “Tiffany akan kembali ke Amerika karena kita.” Dia diam sesaat, “dan aku tidak bisa membiarkannya pergi hanya karena hal bodoh ini.“

Mendengarnya mengatakan tentang Tiffany membuat aku menutup telinga kencang-kencang. Aku benci, sangat benci. Nada suara itu nada suara yang menyatakan betapa dia sangat-sangat terluka. Aku bodoh, sangat bodoh. Ini jelas kalau—

“aku sangat mencintai Tiffany.”

–aku lah yang sudah pasti terluka.

Tiba-tiba hatiku sangat sakit dan aku baru sadar air mataku sudah turun sedari tadi. Isak tangisku terdengar sangat keras karena aku tidak sanggup menahannya lebih lama lagi. Kisah ini memang awalnya sangat mudah di tebak. Kisah Jessica mana ada yang berakhir bahagia?

Langkah kaki Jaejoong yang besar-besar terasa mendekat, aku ingin pergi tapi kakiku menegang. Hingga sampai pada pertigaan koridor dia menoleh dan mendapatiku berdiri menatapnya dengan mata yang penuh air mata. Aku..

“Soo yeon..” mendengarnya memanggilku dengan nama korea-ku membuat aku semakin melebarkan mata. Aku sadar  aku bukan di hatinya.

Sunny yang juga sadar Jaejoong sedang berbicara dengan seseorang, datang kesebelah Jaejoong. Menatapku dengan sangat sedih, “Jessica..”

“aku..” aku menatap mereka satu-persatu, tanpa susah-susah menghapus air mata. Dalam nyata maupun mimpi, kalau begini terus aku tau, dunia indahku segera berakhir. “Jaejoong, cegahlah Tiffany ke Amerika. Aku tau kamu mencintainya dengan sangat.” Aku menekankan dalam kalimat terakhir untuk diri sendiri. Betapa aku harus sadar kenyataan yang sangat pahit.

Apapun yang terjadi nanti, walaupun masa ini telah terlewati, mungkin Jessica tak akan pernah sama. Biarkan ini menjadi sebuah cerita yang tak membahagiakan, biarkan ini menjadi kenangan suatu hari nanti. Satu yang aku tau, dalam saat-saat tertentu aku harus sadar akan dunia; tidak semua orang yang kamu cinta mencintaimu. Tapi untuk kebahagian orang tersebut, satu yang ku butuhkan; merelakannya.

FIN

fanfic selanjutnya cast nya Sunny ^^

About Han

My world and days. People beside me. Precious family. You. That's I loved. JYH's ♥

Posted on December 23, 2011, in fanfic and tagged , , , . Bookmark the permalink. 13 Comments.

  1. bagus ni ff unnie…menyetuh bngt🙂
    tmbh lagi ya ff yg lain terutama yg SNSD
    #maklum pecandu *eh..(maaf) penggemar SNSD mksudnya..hhehe ^^
    ditunggu ff yg lbh seru di thn 2012 ^^

  2. Kyai Sholeh Darat balik bertanya, sambil berpikir kalau saja apa yang dimaksud oleh pertanyaan Kartini pernah terlintas dalam pikirannya.

  3. aku suka jaesica couple meskipun endingnya kurang suka tapi aku tetep komen ko.buat jaesica lagi ya

  4. aaahhh sumpaaahh sediiihhhhh………….
    Jessica i love u,!! aku suka karaktermu yang seperti ini! cocok ma kenyataannya deh kayanya, Jessica kalau diliatkan kaya yang sombong ma jahat tapi aslinya aku yakin dia baik ma penyayang. dan ff ini cocok bgt!!!
    Jaejoong jahaatt *plak*

    di tunggu ff selanjutnya. Buat ff Jaesica yaa kapan2 heheheh

  5. Yahhh,
    kok end ny sad gitu,
    #nangis di pojokan kamar. .
    Jae oppa tega bgt sama jess eonni,
    tp salut deh buat karakter jess eonni,
    menyentuh bgt.

  6. Hiksssssss kenapa harus angst?Kenapa harus Tiffany? ;;AA
    Thor bagus bangett,sedih,rasa perihya sica onnie dapet banget!Nice FF onnie❤

    • seneng banget ada yang komen kaya gini :” ada cerita lagi yang tiffany ada nyambung sama yang ini, di baca yah🙂 mungkin biar jelas kenapa Tiff jahat ^^

  1. Pingback: JAESICA COUPLE #1 « fafajung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: