(fanfic) Lavender and Sunny

https://i1.wp.com/25.media.tumblr.com/tumblr_lj5qiaCocD1qgvpkso1_500.jpg

Cast:

–       Lee Sunny

–       Lee Sungmin

–       Im Yoona

–       Jessica Jung

Length: Oneshoot

Genre: Love

Rated: G

Dislaimer: Murni dari pemikiran-ku. Cerita yang udah lama ada di laptop tapi baru di post sekarang ^o^ hope you’ll enjoy this!!

 

Suatu pagi ketika aku bangun dari tidur aku menghirup udara segar yang menyenangkan. Padahal yang ku tahu, aku tidak punya pengharum ruangan barbau lavender seperti ini. Tapi kenapa bahkan udara pun terasa semenyegarkan lavender?

Begitu aku beringsut dari atas kasur pemandangan tak terduga membuatku berteriak lumayan besar. Sampai aku sadar pemandangan yang baru saja ku lihat, terjadi dari beberapa hari yang lalu.

“apasih, teriak-teriak aja!” suaranya lebih mirip monster ketimbang gadis yang berumur satu tahun di bawahku. Aku mencibirnya dengan menirukan suaranya yang tidak imut seperti milikku. Dia menatapku kesal, “dasar sok imut!”

Sebenarnya dari dua hari yang lalu saudara jauhku datang untuk acara keluarga. Dan berhubung rumahku besar karena aku orang yang kaya raya, dia menumpang di rumahku sementara waktu. Namanya Im Yoona. Tapi kata Ayah dia saudara ku yang sangat jauhhhhhhh sekali, jadi tidak mirip denganku sama sekali. Aku pendek, dia tinggi. Tapi aku imut, dia bahkan tidak terlihat seperti wanita.

Dan yang membuatku berteriak tadi adalah; dia tidur di lantai. Oke, ini biasa tapi aku hanya melebihkan. Karena tidak terbiasa melihat tingkah laku kampungan.

“hei kebo, bangun!” aku menginjak tubuhnya. Melompat-lompat di sana sesuka hati. Tapi berhubung aku punya hati, lompatannya berupa lompatan kecil. Habis badannya kurus sekali, aku tidak mau dia mati karena aku.

“siapa kamu menyuruh-nyuruh aku?” bukannya langsung bangun Yoona malah menantangku.

“babo!” gerutuku, “walaupun kamu ga sekolah kan kamu mesti bangun pagi. Kamu gadis, tau!” suara imutku keluar, “apa perlu ku adu Ayah hm?”

Mendengar kata ayah dia bangun. Membuatku terjatuh dari atas badannya. Kurus-kurus ternyata kuat juga. Dia langsung menatapku dari posisinya yang berdiri sedangkan aku beringsut jatuh, “kenapa hari ini bau lavender, ya?”

Aku bangun untuk menyamakan posisi, “kau juga menciumnya?” sial, aku pendek sekali padahal kami hanya terpaut satu tahun.

“iya.” Senyum Yoona mengembang. Aku akui dia cantik. “pernah mendengar kisah dari nenek kita kan?”

“tentang apa?” jawabku reflek.

“wangi lavender di pagi hari itu menandakan akan hari baik.” Dia tertawa kecil, “udah aku duga hehe.”

Apa sih, kadang Yoona suka tidak jelas. Paling yang di anggapnya hari baik itu karena dia bisa tidur sepuasnya hari ini, atau hal sepele yang lainnya. Im Yoona kan, walau cantik, karena sikap dan sifatnya, katanya tidak punya kekasih haha. Eh, tapi aku juga deh.

“apa sih, berekspresi sendiri! Mending cantik!” Yoona menjitak kepalaku kemudian pergi keluar kamar. Uh, memangnya tadi ekspresiku seperti apa? Lagian juga aku berekspresi gitu kan karena membayangkannya.

Hei, aku baru saja sadar aku terlalu lama berfikir dan bicara tidak jelas bersama Yoona. Sekarang sudah pukul 07:00 dan aku harus bersiap ke sekolah!

 

oOo

 

Benar-benar menyebalkan! Yoona bilang dari pagi ini wangi lavender menandakan hari baik, tapi kenapa aku harus jalan ke stasiun dan menaiki kereta untuk mencapai sekolah? Apa ini yang di sebut hari baik? Menyebalkan sekali ketika Yoona merengek manja ke Ayah untuk memperbolehkan supirku mengantarkannya pergi belanja. Mentang-mentang dia tidak sekolah. Tapi harusnya ayah mementingkan aku yang ke sekolah dari pada dia!

Aku sebenarnya selalu berfikir hidupku tak akan bahagia lagi, jadi aku anggap hari ini bukan hari baik lagi. Sunny sebenarnya lemah, hanya tidak menunjukannya. Aku sudah sering di gunjing dan di-bully, maka aku menganggap hidupku sudah rusak. Tapi satu-satunya yang membuatku kembali pulih adalah, harta. Tapi sekarang, aku merasa hidupku rusak lagi.

Saat-saat muram di sekolah, yang paling ku rindukan adalah suasana rumah. Ketika ayah menawarkan gadget baru. Atau saat ibu membelikanku tas-tas dan baju-baju mewah. Tapi di balik hal itu aku sadar, aku membutuhkan teman.

Jessica datang saat itu. Ketika Taeyeon ikut memusuhiku juga bersama si wanita keji bernama Yuri. Hah.. mereka memang brengsek. Yuri yang menyebabkan tanah makin tandus padahal sebelumnya sudah tandus. Dia yang menyebabkan aku yang di benci semakin di benci lagi oleh teman-teman. Termasuk Taeyeon yang saat itu satu ku punya.

Tapi Jessica datang, menemaniku tanpa melihat aku dari sisi apapun. Tapi sungguh kadang aku berfikir dia menemaniku atas dasar memanfaatkan keadaan. Tapi seburuk apa alasannya, aku lebih memilih punya teman satu daripada tidak sama sekali.

Tapi ketahuilah, Jessica itu macam anak setan yang berubah jadi malaikat namun masih tidak di terima di surga karena perbuatan lamanya. Dan aku memahaminya betul sekarang ini. Aku tau seberapa sakit hatinya saat merelakan kekasihnya untuk temannya. Dan kekasih brengsek-nya itu memang laki-laki tenar yang suka mendekat ke gadis mana aja. Tapi tepatnya dia suka yang blasteran korea-amerika deh kayanya.

Dan inti dari semua permasalahan ini; aku sudah tidak peduli dengan keadaan sekolah. Aku mendukung Jessica tapi tidak bermaksud untuk mengenalnya lebih jauh. Aku takut trauma. Dan tujuan aku datang ke sekolah untuk loyalitas. Yang sebenarnya tak butuh pendidikan juga karena lulus ga lulus aku akan menjabat jadi direktur perusahaan ayahku.

Oke, sekarang yang jadi masalah adalah; kenapa jarak dari rumah ke stasiun jauh sekali?!

Aku yang tak terbiasa jalan rasanya capek sekali, tenggorokanku kering. Hingga sampai mataku menemukan apa yang di sebut stasiun, aku mampir dulu ke sebuah toko imut dengan cat berwarna hot pink.

Aku memasukinya dan begitu masuk tubuhku langsung kaku. Aku melihat seorang laki-laki sedang mangangkat barang-barang berat. Wajahnya tidak kalah imut dariku, bibirnya merekah merah, dan.. lengannya berotot! Yah walau kecil. Aku hampir saja mengeluarkan air liur kalau laki-laki itu tidak menegurku,

“mau beli apa?” tanyanya ramah. Dia tersenyum dan mendadak jantungku berdetak kencang.

“ah eh ah eh” gugupku, “aku mau lemon tea aja.” Suaraku diusahan imut dan manis, supaya berkesan lucu dan dia menyukaiku.

“a-apa?” dia menggaruk kepalanya yang kurasa tak gatal. Laki-laki ini salah tingkah ya melihat wajahku? Hehe.

“lemon tea.” Terangku dengan semangat dan cengiran manis.

“maaf, tapi kami tidak menjual minuman. Ini toko buah.” Dia menekankan kata ‘toko buah’ sehingga aku yang sedang senyam-senyum tak jelas sadar akan kesalahan fatal ini. Aku memasang tampang bloon dan wajahku memerah. Laki-laki itu tertawa lepas.

Babo! Apa yang ada di pikiranku? Kenapa aku bisa memasuki toko buah sedang aku membutuhkan minuman? Persetan.

“mianhae.” Aku buru-buru membungkukan badan, takut menatap matanya karena telah ketahuan berbuat salah. “aku harus mencari tempat yang lain. Maaf.”

“tunggu, Sunny.” Dia menarik lenganku lalu tiba-tiba saja wangi lavender tercium sangat semerbak di hidungku, bahkan sampai menuju otakku yang tidak punya indera penciuman. Kenapa sekarang semua terlihat indah?

“kalau tidak keberatan, aku bisa membelikanmu minum. Biar kamu tunggu di sini dulu.” Suara halusnya terdengar nyata dan aku hampir mati di buainya. Matanya yang belo membuat aku ingin menggigitnya hihi.

“dari mana kamu tau namaku?” aku mengesampingkan kata-katanya yang menawarkan minum. Dia yang tadi akan keluar toko menoleh ke arahku dengan senyum yang sama. Dia menunjuk.. hatiku?

Beberapa saat setelah dia keluar untuk mencari minum aku tertawa-tawa sendiri, tersenyum-senyum sendiri, membayangkan apa yang baru saja terjadi. Aku tenar sekali, pikirku. Sampai-sampai tukang buah saja tau. Eh tunggu, berapa umurnya?

“ini.” Dia memberiku segelas susu. Aku menatap susu itu dengan seksama. “itu susu.” Katanya seolah aku tidak tau itu susu. Tapi yang ku permasalahkan bukan itu.

“kamu ga suka susu?” dia menarik susu itu dari genggaman kedua tanganku, “ku pikir, semua orang suka susu. Biar ku ambilkan yang lain, ya.”

Aku hanya mengedipkan mata berkali-kali. Hingga dia berlalu untuk mencari minuman lain. Bahkan aku belum berkata sepatah katapun. Aku bukannya tidak suka susu, malah suka sekali. Tapi kenapa dia tau? Tapi sekarang dia sudah membawanya pergi.

Dan ketika laki-laki yang kusadari ternyata pendek itu membawa minuman lain, dia berkata sebelum memberikannya padaku, “kamu pasti suka lemon tea kan? Karena tadi kamu yang memintanya pas awal masuk.” Dia cekikikan sebelum memberikannya padaku. Aku jadi malu karena yang pasti diingatnya adalah kejadian memalukan pertama.

Aku meneguk lemon tea itu. Percaya tidak, rasanya puluhan kali lebih enak di banding lemon tea biasanya? Tapi aku benar-benar jujur kalau lemon tea ini lezat sekali.

“oh ya, Sunny.” Katanya sok akrab tapi aku senang mendengarnya, “kamu tidak ke sekolah? Ini sudah pukul tujuh lewat dua puluh menit.”

Uhuk! Aku tersedak dan bunga-bunga lavender di sekeliling-ku tiba-tiba menghilang, “omo! Bagaimana ini? Aku telat!”

Senyum laki-laki itu terbentuk bulan sabit sempurna, “masih belum terlambat kalau mau usaha. Sugestikan bahwa kamu tidak akan telat, ayo cepat!”

Saking buru-burunya, dia ikut memakaikanku tas yang tadi sempat ku lepas. Menaruh lemon tea-ku yang sesungguhnya masih banyak. Dia mengantarkanku sampai depan toko, lalu dia melambaikan tangannya sambil tersenyum cerah, “sampai jumpa! Datang lagi ya untuk beli buahku!”

Aku tertawa kecil. Aku pasti datang kok, datang untuk membeli buah, bukan meminta minum hehe. Pasti rasa buahnya manis semanis wajahnya, segar sesegar senyumnya. Dengan langkah cepat aku masuk kedalam kereta yang siap berangkat. Kenapa dimana-mana tercium wangi lavender ya? Ah, sesial apapun setelah ini pasti akan terasa baik.

 

oOo

 

“Ya! Izinkan aku masuk, please..” aku merengek manja di depan guru yang sudah berdiri di depan gerbang sekolah. Dia menggeleng-geleng tanda tak mau.

“tapi aku baru telat beberapa menit.” rajukku lagi sambil tetap memasang wajah yang melas semelas-melasnya. “ya?”

“kau bilang ini telat beberapa menit, hah? Kau lihat ini jam berapa?! Kau bahkan telat lebih dari tiga puluh menit!”

Aku menguap mendengar ocehannya. Benat juga, aku kan telat sekali ya. Tapi berhubung hari ini indah gara-gara tadi, ini bukan masalah besar. Beberapa cara terlintas di otakku dan aku langsung tersenyum karena melupakannya.

“mau ku bilang Ayah nih?”

Begitu mendengar ayah di sebut-sebut guru itu mendengus. Dengan tampang melas dan pasrah membukakan gerbang sekolah untukku. Dengan manis aku tersenyum dan membungkukan badan tanda terimakasih. Hari ini sangat indah. Gara-gara penjual toko buah atau karena lavender di pagi hari nih?

Langkah kakiku terhenti di depan ruang kelas juniorku. Karena koridor lantai atas tidak selebar koridor lantai bawah, jalanku terhalangi oleh junior-junior bodoh ini. Aku menatap mereka dengan jahat, karena aku senior.

“hei, bisa menyingkir, tidak?”

Tapi karena suaraku manis dan lembut, yang ku maksudkan tidak mendengarnya. Hingga aku kesal dan menendangnya satu ke depan. Tentu yang paling menghalangi jalan.

“bisa minggir, ga?!” bentakku. Aku melihat bet namanya di sebelah kanan jas sekolah. Menatapnya dengan kesal dan mencoba menghapal namanya untuk di beri palajaran lain kali. Lee Taemin. Setelah di pandang begitu dia baru menyingkir dan menunduk minta maaf padaku. Lagian jelas dia salah, masa menungging di jalanan umum?

Tapi, tunggu.. aku sadar sesuatu! Aku menunduk menatap jas-ku di bagian kanannya. Lee Sunny. Aku baru saja sadar aku juga mamasang bet namaku sendiri. Sunny.. Sunny. Kau bodoh sekali menganggap kau dikenal sampai ke penjual toko buah? Jadi tadi laki-laki tadi hanya membaca bet ini untuk mengetahui namaku? Dan yang kupikir tadi menunjukan hatiku ternyata menunjuk bet ku? Babo ya!

Dengan lunglai aku berjalan menuju kelas. Walau wangi lavender sangat segar dan menyenangkan, aku baru sadar betapa bodohnya diriku. Kebahagianku aku sendiri yang membuatnya berantakan dengan tingkah yang bodoh. Sunny, oh Sunny.

 

oOo

“karena hari ini aku punya waktu luang maka aku menemanimu.” Jessica berkata dengan cuek seperti biasa. Padahal aku sangat-sangat antusias mendengar pendapatnya tentang kisahku dengan penjual toko buah tersebut hihi. “palingan selera kamu itu kaya si berandal Yunho.”

“ya!” aku menjitaknya, “ga inget ya kalau kekasihmu itu teman baiknya Yunho, uh? Sampe Yunho di bilang homo-annya Jaejoong hihi.” Aku tertawa mengingat gossip yang sebenarnya sudah lama itu. Tapi ku lihat raut Jessica tidak senang. Aku menemukan sesuatu yang salah. Apa dia sedang bertengkar dengan Jaejoong? Ah, mereka selalu saja.

“mau tidak ku temani?” Sica mengalihkan pembicaraan, “aku kan gadis sibuk.”

Aku mengangguk mengiyakan tanpa mempedulikan kalimat terakhirnya. Kemudian begitu pulang sekolah kami berjalan ke stasiun. Jessica sengaja tidak pulang bersama dengan Jaejoong, ku lihat wajahnya bahagia sekali.

“jadi ini?” kami berhenti di sebuah toko buah yang ternyata bernama ‘toko Lee’ itu. aku jadi cekikikan sendiri membayangkan nama si penjual buah yang manis itu. Marganya pasti Lee, nama panjangnya siapa ya? Apa Lee Rain seperti penyanyi yang keren itu? Atau Lee Hyukjae seperti nama pelawak? Aaaa aku tak sabar untuk mengetahuinya.

“warna tokonya aja sok imut, hot pink. Aku rasa pemiliknya homo.” Jessica mencibir, aku menoleh ke arahnya dan memandangnya sinis.

“yee kalau liat penjualnya pasti kamu ngeces kaya aku. Dia berotot tau! Wajahnya sama Jaejoong pun jauh banget.” Aku kembali senyum-senyum mengingat wajahnya. Tapi Jessica tidak menggubris semua kata-kataku yang ada Jaejoong-nya. Padahal dulu dia sangat semangat membicarakan Jaejoong.

Dia menarik tanganku untuk masuk dan mendadak jantung aku berdetak lebih kencang. Namun begitu aku masuk mulutku menganga lebar lihat laki-laki yang tadi pagi ku lihat sedang berbincang dengan seorang gadis pirang yang ku rasa umurnya tidak jauh beda.

“yang itu?” perkataan Jessica menyadarkan aku yang dari tadi menatap gadis yang bersama laki-laki itu dengan sinis. Jessica seperti menahan tawa, “ku pikir seperti Rain tapi ini bahkan masih lebih baik Yunho! Hahahahha.”

Tawa Jessica membuat laki-laki dan gadis pirang itu menoleh. Hei, dia manis kok, emang selera Jessica aja yang macam Jaejoong, huh. Jadi tidak tau mana yang namanya tampan dan tidak.

“kamu yang tadi pagi?” laki-laki itu tersenyum kepadaku, Jessica pasti tau aku kesenengan banget, “sekarang mau beli buah ‘kan?” kurasa kata-katanya rada menyindir..

Aku mengangguk dengan semangat. Dan dalam waktu yang singkat gadis pirang itu berpamitan untuk keluar toko, lalu laki-laki manis itu memberinya lambaian tangan dan senyum manis, “sampai jumpa, Hyo!” atau sekarang aku perlu mencatat nama Hyo itu untuk memberinya pelajaran lain kali?

“kau membawa teman, Sunny?” dia menatap Jessica, “namanya Jessica ya, bagus sekali.”

Ku lihat Jessica tersenyum ramah. Gawat, kalau laki-laki ini sukanya dengan Jessica gimana? Jessica kan lebih cantik dari aku.

“jadi, mau beli buah apa?”

“sebenarnya Sunny ini mau tau nama kamu.” Suara Jessica membuat aku membelalakan mata. Jantungku mendadak berdegup semakin kencang. Aku ingin protes tapi itu tandanya bohong. Aku kan memang benar ingin tau namanya..

“Lee Sungmin.” Laki-laki bernama Sungmin itu tersenyum malu-malu. Tuhan, aku benar gila di sini! Sekarang di sekelilingku bukan bau lavender lagi, ada mawar, sunflower, anggrek, dan banyak lagi.

Dia mengulurkan tangan dan aku menjabatnya dengan lembut. Rona wajahku pasti merah. Rasanya seperti di surga jika Jessica tidak menyadarkan aku kalau sedang di dunia nyata. “ehem!” ganggunya. Sekejap aku melepaskannya malu-malu dan diapun sama.

“aku mau buah jeruk.” Setelah ku pikir beberapa lama aku sadar aku tidak menyukai buah. Tapi kata ‘tidak suka’ akan ku ubah setelah ini.

“jeruk?” Sungmin bertanya ulang, aku mengangguk tanpa ragu. “kalau Jessica?”

“pear ada?” dan setelah Jessica bilang seperti itu aku baru tau ada buah namanya pear. “Jae suka pear.” Dia nyengir padaku. Tapi aku merasa ada yang janggal dari cengiran tersebut.

“untuk orang yang di sayangi ya?” kata Sungmin yang menurutku kalau dia bukan orang yang ku suka adalah; sangat ikut campur.

Jessica mengangguk tapi lagi-lagi rautnya sedih meski senyumnya tetap saja di pamerkan.

“jeruk! Jeruk!” aku berkata tak sabaran. Padahal aku benci suasana tersebut. Aku benci ketika tau tentang suatu kenyataan tapi aku berpura-pura tidak tau. Karena aku hanya akan menganggu sebuah hubungan atau lebih tepatnya mencampuri urusan orang.

Setelah itu Sungmin memberiku sekantung jeruk. Katanya itu jeruk yang manis yang di pilihkan khusus untuk aku. Dan, walau sebentar saja, kami memutuskan untuk pulang. Aku masih punya hari esok, dan aku akan menguasainya dengan kebahagian baru. Biarlah aku memiliki sisi dimana aku sendiri, asalkan aku masih punya satu saja, aku sudah cukup bahagia.

Dan tentang hubungan aku dengan Sungmin ini, aku yakin, semua akan berjalan dengan baik. Lavender pagi hari cukup meyakinkanku karena, kalau bukan karena itu, aku tidak mungkin mengalami hari sebaik ini, ‘kan?

 

FIN

About Han

My world and days. People beside me. Precious family. You. That's I loved. JYH's ♥

Posted on February 12, 2012, in fanfic and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. 3 Comments.

  1. Unnie, ni fanfic lanjutannya yg Jessica Unnir n Fany Unni itu bkn, Unn?
    atau ada crita sebelumnya?? kok tiba2 Taeng Unnie jd benci ma Sunny Unnie??

    yaa..apapun itu Unn, maju terus u/ blognya ya Unn, ditunggu kisah yg lain.

    #gravatarnya bagus lho Unn…hehehe ^__^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: