[Fanfic] Plight (1)

https://i1.wp.com/static.tumblr.com/uvnioa9/kzom1b8pq/song_victoria_.jpg

Cast:

–       Victoria Song

–       Shim Changmin

–       Cho Kyuhyun

–       And new cast in the next part

Length: Chaptered

Genre: Love, Hurt, Friendship, Employment

Rate: G

A/N: Aku datang dengan yang berchapter lagi, semoga berlanjut deh hehehe jangan lupa komen setelah membaca, kamsahamnida ^^ semoga suka dengan ceritanya. Tapi karena ini awal, mungkin masih belum seru jadi baca aja ya. Happy reading~

Chapter 1

 

Angin malam berhembus begitu kencang, di temani temaram lampu dan secangkir kopi hangat gadis itu menangis dalam keheningan. Larut dalam kesunyian bebunyian alam yang terdengar begitu keras.

Seseorang yang berlalu lalang semakin sedikit, hari semakin larut dan toko-toko sudah hampir tutup. Tidak peduli semalam apa, ia terus seperti itu dengan matanya yang tertutup. Sesekali helaian angin musim dingin menerpa halus wajahnya.

Suara yang paling keras di pendengarannya adalah air. Air yang turun dari matanya menuju dagu hingga leher, meski hanya tetesan yang terdengar seperti rintikan. Karena malam ini sangat sunyi baginya. Sunyi hingga tak ada suara yang dapat ia dengar selain isak tangisnya yang tenang.

“maaf nona, toko sudah mau tutup.”

Ucapan ketiga dari seorang pelayan tetap tak menyadarkan gadis itu. Di luar yang masih menjadi bagian café ia duduk, membiarkan secangkir kopi hangatnya berubah menjadi sangat dingin karena angin tanpa menyentuhnya sama sekali.

Mungkin lebih pantas di sebut gadis yang frustasi, dia tak bergerak. Tapi air matanya tetap turun tak terhenti. Seolah rasa sakitnya tak hanya sedikit melainkan sangat banyak.

“nona, maaf nona.” Kali ini pelayan itu mengguncang bahu gadis bernama Victoria itu, dengan harapan ia akan sadar. Tapi, apalah daya, Victoria masih diam tak berkutik. Hingga pelayan itu memutuskan untuk menutup café tersebut tanpa secangkir kopi yang gadis itu pesan.

Pelayan muda itu menghembuskan nafas. Menatap Victoria dengan sesal dan wajah yang prihatin. Andai saja ia tau apa masalah gadis itu, mungkin ia akan membantu sedikit. Setidaknya rasa sakit tersebut dapat terbagi dan tidak hanya di tanggung sendiri. Pelayan itu masih memiliki rasa, mungkin karena ia dan Victoria terlihat seumuran.

Dan mau apa lagi, pelayan itu perlahan melangkahkan kakinya menjauhi café dimana dia bekerja. Meninggalkan Victoria yang tidak tau sampai kapan akan disana, kedinginan tanpa sehelai jaket-pun.

Dering ponsel gadis itu berbunyi mengisi kekosongan malam yang ia rasa. Suara  halus pemuda yang jadi nada dering yang ia pilih sebagai panggilan masuk membuatnya membuka kedua matanya dan menghapus air mata di pipinya. Begitu ia lihat nama yang tertera di ponselnya, senyuman kecil tak berarti menghias di bibirnya.

“kau dimana?” tak perlu sapaan sopan, Victoria langsung bertanya pada intinya. Ia lelah, sangat lelah.

Suara di seberang sana terdengar tertawa kecil, tapi gadis itu merasa jengkel. “cepat katakan Changmin-ah.” Ucapnya kesal. Berkata seperti itu membuat seseorang yang menghubunginya tidak akan tau kalau ia baru saja menangis.

“ya, Noona.” Changmin menghela nafas sesaat, “aku di Seoul Station—“

Ucapan yang selanjutnya akan dikatakan laki-laki itu terputus ketika Victoria memutuskan sambungannya. Ia mengeluarkan sebuah cermin dari dalam tas kecilnya dan bercermin menatap wajahnya yang terlihat buruk akibat menangis. Agar terlihat baik-baik saja ia memakaikan bedak dengan sangat tebal, dan memolesi bibirnya dengan lipstick pink cerah.

Tak berapa lama berdandan ia kembali menatap wallpaper ponselnya. Yang menampilkan wajah seorang laki-laki yang merangkul dirinya dalam pelukan. Victoria memandangnya tanpa senyum, lebih pantas jika dikatakan wajahnya penuh beban. Tapi mau tak mau ia harus menjalaninya.

Dengan langkah cepat ia meninggalkan café itu, meninggalkan secangkir kopi dingin yang masih penuh tak tersentuh barang sedikitpun.

oOo

“ku pikir kau menghubungi Kyuhyun terlebih dahulu.” Senyum Changmin terlihat memaksa, dia memasukkan kedua tangannya ke kantung celana. Melihat gadis di hadapannya tak merespon ucapannya sama sekali, ia menghembuskan nafas.

“masalah lagi?”

Victoria menggeleng, kemudian menatap Changmin dengan sangat kesal. “aku lelah jadi berhenti bicara denganku!” katanya dengan berkacak pinggang.

“lalu harus kemana aku membawamu?”

Pertanyaan Changmin membuat Victoria menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sesaat dia berfikir. Bodoh sekali, sampai sini pun ia tidak tau kemana tujuannya. Yang ia tau dia butuh pergi dari Qingdao. Itu saja.

“kemana?” laki-laki itu menuntut pertanyaannya untuk di jawab, tapi karena pikiran Victoria lagi benar-benar buntu, ia hanya bisa menggeleng memasang tampang bodohnya.

“ku antar ke rumah Kyuhyun ya?” kaki Changmin siap melangkah, tapi Victoria menahan lengannya. Laki-laki itu menoleh dan menatap gadis itu dengan bingung tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun.

Victoria menunduk. Meski tak tau apa masalahnya, Changmin harus mengerti. Ada saatnya dimana dia harus mengerti perasaan wanita yang sangat sulit di tebak. Bagaimanapun dia sudah dewasa, belum pernah memiliki hubungan khusus dengan wanita bukanlah alasan yang jelas untuk tidak mengerti jalan pikiran wanita. Maka dari itu dia tersenyum, mengeluarkan tangan kanan dari saku celana dan mengelus rambut gadis itu, “aku tau. Untuk sementara ke rumahku, ya?”

Victoria hanya tersenyum menanggapi kalimat itu. Yang penting sekarang ia menjadi lebih nyaman bersama Changmin yang mulai dewasa. Ia tak perlu repot-repot mengungkapkan apa yang ada di pikirannya. Seperti dirinya yang bersama Kyuhyun, meski kadang laki-laki itu sangat kekanakan, ada kalanya dimana dia merasa Kyuhyun jauh lebih dewasa di atasnya. Meski kenyataannya Kyuhyun lebih muda satu tahun di bawah Victoria. Tapi apa yang ada di diri laki-laki itu, semuanya adalah yang gadis itu suka.

Changmin berjalan jauh di depan Victoria, sedang gadis itu hanya mengikutinya dari belakang. Stasiun itu, meski ini sangat larut tetap saja ramai.

“kenapa harus bertemu di Stasiun?” gadis itu memulai pembicaraan saat kekosongan mulai terasa. Mereka telah keluar dari stasiun dan melewati jalan yang mulai sepi.

“kau tidak suka?”

“bukan.” Victoria memainkan kancing bajunya, “hanya di sana ramai dan aku sangat sulit mencarimu.”

“tapi akhirnya kita bertemu ‘kan?” Changmin menoleh ke belakang dan menatap gadis itu yang berjalan begitu lama, “kenapa lambat sekali sih?”

“hah?” gadis itu kini berlari dan menyamai langkah Changmin. “karena kalau aku di sampingmu aku sangat terlihat pendek.” Gadis itu melebihkan, tangannya mengangkat ke atas sangat tinggi untuk mengatakan tinggi Changmin. “seperti tiang hehe.”

Changmin tertawa lepas. Memang, sekali-kali Victoria membuat suasana terasa hidup dan tidak sepi. Itulah alasan mengapa gadis itu sering di sebut berumur sekitar 23-an. Karena ia aktif dan berselera humor baik.

“kalau tiang sependek aku, apa listrik akan berjalan lancar hm?”

Logika Changmin berjalan membalas perkataan Victoria. Kini gadis itu yang tertawa ringan. Dalam perjalanan pulang ke rumah Changmin, mereka tak menyangka akan sampai secepat ini. Changmin yang biasanya malas berjalan dan lebih memilih naik mobil, entah mengapa merasa senang saja saat berjalan dengan Victoria. Bahkan ia berharap rumahnya lebih jauhhhhhhhh dari ini.

“kita sampai.”

Gadis di samping Changmin memperhatikan sebuah rumah kecil yang kini ada di hadapannya. Wajah lelah dan mengantuknya di paksakan tersenyum melihat hasil kerja keras dari laki-laki yang di tinggalnya selama kurang lebih lima tahun itu. Hebat, pikirnya.

“rumahmu?”

“kecil kan?” Changmin membuka pintu utama setelah melewati mobil mewah Audi A6 yang terparkir di garasi rumah.

Victoria tersenyum kembali, begitu sadar laki-laki ini benar-benar sukses. Berkebalikan dengan apa yang di dapatnya di China. Mobil mewah itu cukup mengartikan seberapa besar usaha Changmin.

“ini sangat hebat karena melalui usahamu.”

Changmin hanya tersenyum senang di puji-puji seperti itu. Hanya dia laki-laki dewasa, kalau tidak, mungkin dia akan sangat sombong.

Setelah memasuki rumahnya yang memang tidak terlalu besar namun nyaman dan hangat, Changmin menunjukan sebuah kamar lain selain kamar utama di dekat ruang tamu. Kamar ini letaknya lebih di dalam, di bagian sebelum dapur.

“tidak berniat mencari kekasih?” Victoria tersenyum melihat kebingungan Changmin. Senang sekali menggoda laki-laki itu. “jangan terlalu sibuk bekerja loh, kau kan butuh merasakan namanya kasih sayang.”

Wajah Changmin sekilas merona merah. Ia menutupinya dengan masuk ke kamar yang akan di tempati Victoria dan pura-pura membersihkannya.

“aku rasa kau perlu tidur, noona.” Ia mengalihkan pembicaraan.

“aku tau. Aku hanya mau kamu segera mendapatkan kekasih kok. Apa perlu aku carikan?” Victoria semakin senang menggoda. Tapi Changmin menghindar terus-menerus tanpa menjawab perkataan Vicoria sama sekali.

“oh! Oke, akan aku carikan.” Gadis itu terkekeh pelan, melihat Changmin yang begitu saja keluar dari kamar dengan rona wajah yang memerah. Tanpa mendengar langkah Changmin yang pergi menjauh, ia membaringkan tubuhnya di kasur. Sebelum benar-benar tertidur ia menatap kembali layar ponselnya. Di sana Kyuhyun tersenyum senang sembari merangkulnya ke pelukan dengan sayang. “selamat tidur, Kyuhyun-ku.”

Di luar Changmin tidak benar-benar menjauh dari kamar dimana Victoria tempati. Ia menghembuskan nafas begitu panjang dan menyenderkan tubuhnya di daun pintu kamar tersebut. “selamat malam, noona.”

Bagaimana mau mencari kekasih kalau gadis yang ia sukai berpacaran dengan sahabatnya sendiri?

oOo

Pagi-pagi sekali Victoria terbangun ketika bau yang tidak enak tercium olehnya. Harusnya dia bermimpi indah dan menyenangkan, tapi nyatanya banyak beban yang membuatnya sulit tertidur nyenyak. Dan pagi-pagi sekali seperti ini, bau yang tidak enak membangunkannya dari tidur.

“Changmin-ah, ada apa?” ia keluar dengan baju tidurnya. Mencari sumber bau itu berasal. Dan ketika ia tau bau itu berasal dari dapur, ia hanya bisa berkacak pinggang sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.

“noona, kau bilang membuat pancake mudah, uh?” Changmin menggerutu kesal menunjukan wajahnya yang penuh noda hitam. Tangannya sibuk memegang gelas yang isinya baru saja di tumpahkan di atas kompor.

“ne.” bukannya membantu Changmin, gadis itu memilih duduk di kursi makan. Menatap Changmin dari sisi itu.

“jangan tertawakan aku ya.” Dengan malu Changmin membersihkan dapurnya yang berantakan akibat memasak pancake yang gagal. Pancake tersebut hangus dan menciut, lebih mirip arang untuk membakar sate. “aku hanya mencoba membuatkan noona sarapan kok.”

“kamu tidak pernah memasak?”

Kegiatan Changmin berhenti dan ia langsung menatap gadis yang ia panggil noona. Dia menggeleng sambil mengerucutkan bibir.

“mengagumkan.” Victoria bertepuk tangan sekaligus tertawa kencang. Changmin malu setengah mati. Padahal pancake mudah, termasuk untuk kalangan pemula.

“kau tau aku selalu di buatkan Jae-hyung. Dan aku tidak mau repot untuk mencoba melakukannya selama ada dia.” Selesai membersihkan dapurnya ia duduk di samping Victoria yang menopang dagu dengan tangannya.

“tapi nanti itu jadi kebiasaan buruk karena harus selalu mengandalkan seseorang.” Victoria menyibak rambut panjangnya ke punggungnya, “sudah ku bilang kau harus mencari kekasih dan lalu menikah.”

“noona.” Ia memperingatkan. Matanya menyapu seluruh dapur dan kembali menatap gadis yang jadi lawan bicaranya. “yang terpenting kita harus makan apa?”

Victoria menatap Changmin yang semakin lama semakin kesal akibat perbuatan menggodanya. Dia diam dan tak melanjutkannya lagi karena takut Changmin mengamuk. “ada bahan makanan?”

Laki-laki itu hanya menggeleng. Tangannya kini mengambil sepotong roti yang ada di pinggir meja, tangan lainnya yang tidak mengambil roti memilih untuk mengambil selai rasa cokelat kesukaannya. Sebenarnya, semua makanan adalah kesukaannya.

“kalau hanya ada roti, aku akan memakannya.” Victoria tersenyum. Bergantian dengan Changmin ia mengolesi rotinya dengan selai berasa sama. Karena tampaknya selai yang tersisa hanya rasa cokelat.

“sudah semalam, jadi noona harus katakan padaku apa penyebabmu kembali ke sini.” Changmin mengunyah rotinya dengan sangat lahap.

“makan dulu.” Gadis itu mencoba mengulur waktu, berharap saat-saat itu tidak akan pernah ada. Tapi bagaimana mungkin bisa?

“kau selalu saja menghindar.”

“kau juga.”

“tentang apa?” Changmin terlihat bingung. Roti suapan terakhirnya terasa begitu nikmat, hingga ia memutuskan memakan satu roti lagi.

“tentang aku yang menyarankanmu untuk mencari kekasih.” Victoria terlihat senang karena kali ini kedudukannya sama.

“itu masalah pribadi, sedangkan kau—“

“aku juga!” Victoria memutuskan mengambil air minum. Benci berdebat masalah kecil. Dia membiarkan Changmin menatapnya dengan sangat tidak mengerti apa yang ada di jalan pikirannya.

“tapi tentang masalahmu, aku butuh tau agar kita dapat menyelesaikannya. Bukan menyembunyikannya seperti ini. Kekanakan sekali.”

“ya!” selesai meneguk air putih yang diambilnya, Victoria mendekati Changmin yang masih sibuk dengan roti ketiganya. Ia menatap laki-laki yang lebih muda itu dengan sangat kesal, “inilah alasan mengapa aku tidak menyukaimu! Aku butuh waktu untuk mengatakannya, aku sangat takut dan perasaan semacam ini.. apa ada yang mau mengerti? Bicara denganmu yang jauh berbeda di atasku adalah hal yang sulit!”

Changmin terlihat bingung. Mata gadis itu berair dan dia tidak akan tau apa yang harus di dilakukannya jika Victoria benar-benar akan menangis. “apa yang kau katakan? Aku tidak mengerti. Sungguh.”

“ah..” Victoria segera mencegah air matanya yang akan turun. “mianhae.. aku hanya lepas kendali. Mianhae, jeongmal mianhae.”

Lawan bicaranya hanya mengangguk kemudian memakan potongan terakhir dari roti ketiganya. “aku mengerti. Akan mencoba mengerti. Kalau noona sudah siap mengatakannya, aku akan selalu ada. Kapan saja, jangan sungkan.”

Mendengar pengertian Changmin ia tersenyum. Kemudian kembali duduk di sebelah Changmin. Ada hal-hal dimana ia harus mengendalikan diri, tidak membebani siapapun yang tidak menyangkut dalam masalahnya kali ini.

Dentingan bel rumah tersebut berhasil membuat suasana sepi hilang seketika. Changmin yang masih berpiyama mengusap tengkuknya bingung. “siapa tamu yang datang di pagi-pagi yang dingin seperti ini?” gumamnya.

“Jaejoong-ssi, Yoochun-ssi, Yunho-ssi, atau Junsu-ssi, itu kemungkinan ‘kan?”

“ne, tapi mereka tipe pemalas yang datang bukan di pagi seperti ini. Apalagi di musim dingin.”

Changmin hendak bergerak menuju pintu utama untuk membukakan, tapi Victoria menahannya dengan raut memelas. “kalau itu dia, katakan segera padaku dan aku akan bersembunyi, oke?”

Changmin mengangguk kecil. Dia yang disebutkan Victoria pun ia tau jelas siapa. Karena dari kemarin malam gadis itu menolak untuk membicarakannya.

Sebelum benar-benar membukakan pintu dan menyapa tamu yang sedari tadi membunyikan bel tanpa henti, Changmin memilih memakai jaket terlebih dahulu. Ingin menutupi piyama pink bergambar piglet miliknya.

“ne, tunggu sebentar.”

“oppa!” begitu pintu terbuka seorang gadis masuk begitu saja dan menghambur ke pelukan Changmin.

“a-apa yang kau lakukan? Ya! Lepaskan!”

“aku rindu padamu~” gadis itu memeluk Changmin semakin erat meski Changmin menolaknya dengan keras. Ternyata tenaga gadis itu kuat juga.

Mendengar ribut-ribut seperti itu Victoria datang menuju tempat dimana Changmin dan sang tamu yang berisik berada. Ia melihat seorang gadis berperawakan tinggi memakai jaket tebal berwarna abu-abu dan celana jeans serta boots tinggi, sedang memeluk Changmin. Tapi laki-laki itu terlihat menolak.

“nuguseyo?” Tanya Victoria.

Changmin yang menyadari keberadaan Victoria langsung mendorong gadis yang memeluknya dengan sekuat tenaga. Hingga gadis itu terjatuh tepat di depan pintu. “oppa, sakit..” erangnya.

Ia menatap Changmin dan tersadar laki-laki itu sedang menatap seseorang selain dirinya. Dengan bingung ia menatap siapa yang laki-laki itu tatap, dan begitu melihat Victoria, hatinya terasa begitu sakit.

“Changmin-oppa..”

TBC

About Han

My world and days. People beside me. Precious family. You. That's I loved. JYH's ♥

Posted on April 21, 2012, in fanfic and tagged , , . Bookmark the permalink. 5 Comments.

  1. wiii…bagus Unn…😀
    Ditunggu klanjutannya ya Unn…
    Kamsahamnida (*sambil bungkuk…….🙂

  2. jarang banget nemu ff changtoria,ayo lanjutkan!semangat chingu

  3. nice story author😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: