[Fanfic] Not Over

Cast:

–          Park Jiyeon

–          Him

Length: Ficlet

Genre: Struggle, Despair, Hope, Love

Rate: G

Summary: Tapi menanamkan hal akan percaya, berharap, berimajinasi, ternyata rasanya sakit. Apalagi jika kemudian bingung hingga kapan itu terjadi, berputar-putar dalam otak di setiap detik menarik dan mengembuskan nafas.

_____________________

Sampai kapan aku harus seperti ini, saat aku berfikir mimpiku berakhir, saat aku memikirkan itu yang terjadi saat ini. Rasanya sangat sulit bahkan jika harus mengakui tidak memiliki sesuatu yang baik dalam diri, bukan pada dunia, tapi pada diri sendiri saja rasanya sangat-sangat sulit. Untuk berkaca diri bukan dalam riasan terlihat mata, tapi dari dalam adalah hal yang sungguh menyebalkan. Mereka tau, maka mereka menjauhi. Sampai kapan aku harus mencari jati diri seperti ini? Sampai kapan aku.. berharap yang tak pasti.

Mereka tertawa bersamaku, mengasihi, berbagi banyak cerita. Tapi yang tidak mereka tau adalah apa yang nanti akan menjadi alasan menjauhi. Seperti dulu, kisah lama.

Dunia memang selalu tidak adil, membiarkan aku hidup untuk merasakan iri. Sampai aku bertanya, kapan dunia akan menelanku? Dan aku mulai berfikir lagi, bahkan dunia yang aku tempati tidak menerimaku untuk ditelan sebagaimana merasakan bahagia.

Berfikir lagi tentang ini rasanya benar-benar kesal. Karena pikiran ini selalu datang, di saat kapanpun. Menempatkannya di sembarang tempat, di sembarang cerita yang seharusnya menjadi cerita indah.

Mereka lebih kejam dari apapun di dunia ini. Perasaan seperti ini. Hal itu, aku benci.

Kisah yang sudah ku tahu akhirnya saat aku mulai mengerti dunia. Mengenaskan karena, aku ingin mengakhirinya sebelum ini berakhir terlebih dahulu tapi.. aku ingin mencoba. Karena semua belum berakhir sampai itu berakhir dengan sendirinya.

Tapi menanamkan hal akan percaya, berharap, berimajinasi, ternyata rasanya sakit. Apalagi jika kemudian bingung hingga kapan itu terjadi, berputar-putar dalam otak di setiap detik menarik dan mengembuskan nafas.

Apa ada cara untuk menghilangkannya?

Semua berkata, suatu saat dari masing individu akan menemukan apa yang dicarinya dalam hidup. Tapi jika dipikir, suatu saat itu kapan? Kapan? Saat nanti mata bersiap-siap untuk tertutup? Saat dunia telah hancur?

Aku—Park Jiyeon.. memang bodoh. Aku senang mengakui yang memang adalah kenyataannya. Tapi aku benci ketika harus mengakui aku yang ini, bukan aku yang ini. Aku yang ini, aku yang sebenarnya tidak mempunyai apa yang mereka pikir. Aku yang ini adalah aku yang sebenarnya selalu menolak dan menoleh ke belakang. Aku yang ini adalah aku yang selalu menghindari, aku yang terlihat baik-baik saja karena mereka tak tau aku yang ini adalah aku yang selalu menghindari hal yang aku tidak bisa.

Sebagaimana dengan perasaan manusia sendiri yang tak pernah lepas dari rasa iri, aku merasakan itu terlalu berlebihan dalam diriku. Jumlahnya terlalu banyak hingga rasa benci pun tidak pernah lepas.

Dia, dia yang kupikir menjadi belahan hati hanya terlalu indah di rasakan. Tidak mungkin kumiliki jika aku merasa perbandingan besar antara aku dan dia. Berfikir seperti apapun aku hanya ingin satu dalam hal yang sangat aku cinta. Aku tidak mau egois, apapun, untuk yang dicinta secara berlebihan. Seperti harus sadar lingkungan, masih banyak yang bisa melakukannya lebih dari apa yang aku lakukan. Masih terlalu banyak yang baik.

Setelah meninggalkan cinta, apa perlu yang aku tinggalkan lagi? Jika hal yang aku tinggalkan dapat sebanding dengan menghilangnya perasaan ini?

Putus dalam cinta, putus dalam mimpi dan harapan..

Minggu, senin, selasa, kapan hari berhenti? Kapan ini segera berakhir sebelum aku benar-benar mengakhiri dengan sendirinya? Ku bilang aku lelah, jadi jangan salahkan jika aku seperti kura-kura bodoh.

Walaupun mereka bicara tentang aku sekalipun dan mengungkapkan banyak yang aku baru sadari, tetap saja tentang yang ini mereka tak akan tau. Mungkin sampai nanti, sampai hari itu datang aku akan bersiap-siap untuk tidak menangis.

Aku jadi berfikir, apakah Tuhan melahirkanku tanpa menentukan nasib baik untukku?

Waktu itu perkataan dia menjadi mantra besar untukku, lalu setelahnya senyumannya menjalar ke hati dan menghangatkan seluruh organ tubuh. Kalau aku dapat memilih kapan aku ingin menangis, harusnya aku menangis saat itu. Aku sungguh-sungguh beruntung saat-saat mempunyai waktu dengannya.

“Jadi kau menghabiskan waktu disini setelah memutuskan cintamu?” ku pikir aku hanya berkhayal setelah memikirkan dia dengan kuat, tapi aku sadar aku tidak berkhayal tatkala senyumnya menghias di garis wajah lembut itu.

Aku diam melihat mata gelap bercahaya itu. Aku tau aku harusnya tidak memperhatikannya sedalam itu, tidak merasakan kehadirannya seperti biasa seolah akulah pemilik hatinya. Aku salah, aku tau. Aku merasa semakin salah ketika senyumnya lagi-lagi terhias dengan sangat menenangkan. Bodoh..

“Oh, aku tau pemikiranmu.”

..aku bisa mati.

“Aku menghargai keputusanmu.”

Ia bersuara lagi tanpa menghilangkan raut tenangnya. Pada detik itu aku mengalihkan pandangan menatap tanah yang bahkan jauh—sangat jauh—jika dibandingkan keindahannya dengan wajah itu.

Aku tak boleh menangis; dalam keadaan seperti ini, berbeda dengan yang ku maksud. Lain kali aku harus menangis bukan karena merasa pilu dan kasihan pada diri sendiri, ini harus tentang bagaimana aku terharu akan hal-hal membahagiakan.

Aku dan dia diam. Aku dan dia, bukan kita. Aku dan dia bukan kesatuan yang cocok dari dimana cerita itu dimulai.

“Aku tidak mengerti apa yang membuatmu seperti ini, menjauhiku, mengatakan kita berpisah,” kita? “termenung sendiri, dan menjadi diam. Aku mengerti pemikiranmu. Tapi itu pikiran bodoh; pemikiran yang buruk dan akan membuat diri menjadi drop. Yah, jika kau memikirkan hal positif dan menyenangkan mungkin pikiran itu akan hilang. Kau hanya dikendalikan oleh emosi tentang buruknya keadaan saat ini. Itu yang mempengaruhi akan segala pikiranmu hingga menjalar kepada masalah lainnya. Pada dasarnya tentang itu ada dalam setiap pemikiran manusia, namun ada yang dapat menyelesaikannya dengan berfikir positif, misalnya: orang-orang mencintaimu apa adanya, mereka yang berfikir buruk tentangmu ya itu mereka, bukan orang-orang dari sisa mereka.”

Tercenung sesaat membuatku semakin terlihat bodoh. Dan untuk pertama kalinya semenjak dia ada di sini aku mengeluarkan suara, “tapi aku egois..”

Ketika itu hawanya menyedihkan sekali, mengakuinya pada seseorang yang dicinta secara berlebihan. Takut dengan apa reaksinya aku hanya menutup mata dan menggigit bibir bawah. Aku tidak tau jika aku sendiri yang semakin menunjukan kebodohan ini.

“Benarkah seperti itu?”

keterkejutannya membuat aku membuka mata dan menatapnya dengan heran. Dia bahkan berkata seolah dia baru mengenalku beberapa bulan yang lalu.

Aku mengubur hidup-hidup harapan lagi.

“Oh, maksudku—yah, setiap manusia kan memang harus egois. Jika tidak, mungkin akan mati diinjak keegoisan orang lain. Meski bukan egois dalam artian terhadap apapun, sikap seperti itu hanya perlu diubah secara perlahan. Memangnya kau mau hidup dalam keegoisan yang berlanjut tanpa berusaha mengubahnya secara perlahan?”

Benar. Aku jadi merasa sangat-sangat bodoh. Langit-langit apakah kau siap menertawakanku?

“Tuhan-pun menciptakan sifat seperti itu untuk melihat bagaimana kau mampu mengubahnya. Ingatlah It’s not over till it’s over.”

Dia memang dia, tak akan berubah. Kalau dia bukan dia, dia tak mungkin datang kepadaku dan mengatakan mantra itu padaku. Kalau saja dia bukan dia, dia sudah di tempat lain, tak mempedulikanku, bersenang-senang tanpa memikirkan. Dia..

Memang segala-galanya yang ku cinta secara berlebihan.

Saat air menetes dari langit aku tersadar kembali dari lamunan. Disamping sudah tak ada dia. Aku menoleh ke segala penjuru dan hasilnya tetap tak ada. Aku menunduk dan mengembuskan nafas. Jika aku berlari mencarinya dan mengatakan untuk kedua kalinya bahwa aku mencintainya.. apakah itu telat?

Benar, aku baru hanya dikendalikan oleh emosi tentang buruknya keadaan saat ini hingga membuatku drop dalam segala hal. Aku masih mau mencoba, sebelum ini berakhir dengan sendirinya.

“It’s not over till it’s over.”

Selesai mengatakan mantra itu senyumku mengembang. Aku siap berlari mengejarnya lalu meminta maaf atas pemikiran bodoh tentang ini.

Semua akan baik-baik saja.

FIN

About Han

My world and days. People beside me. Precious family. You. That's I loved. JYH's ♥

Posted on June 7, 2012, in fanfic and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: