[Fanfic] The Ending

Cast:

  • Shim Changmin
  • Aku

Length: Drabble

Genre: Love

Rate: G

A/N: Dibuat dalam waktu sesingkat-singkatnya. Dan cast aku bukan aku tapi reader aja yah, bingung pair Changmin nyunyu siapa lagi -_- Meski ceritanya ga jelas, hope you’ll enjoy! :*

______________________________

Waktu itu matahari sedang hangat-hangatnya, ia menghampiriku dengan wajah yang seperti biasanya.

Mataku terpejam sesaat dan mengembuskan nafas. Ketika menatap mata itu aku menemukan hal yang salah. Begitu takut, tak sadar aku menggigit bibir bawah terlalu kuat.

“Katakan saja..”

Aku tau tak seharusnya aku yang berbicara seperti itu. Seolah membetulkan perkataanya bahwa aku ini bodoh, aku bertanya seperti itu yang menyakitkanku di dalam meski tak tampak.

“Harus?” matanya berubah sayu dan aku tau ternyata ia tak ingin mengatakannya.

Tapi sekali lagi dengan kebodohan ini aku hanya mengangguk. Kemudian hentakan kakinya yang melangkah jauh sangat terdengar keras. Namun langkahnya terhenti tak lama dan berkata tanpa membalikan badan, “Ku pikir kau sama seperti aku.”

Aku ingin menangis. Jika terus berpura-pura aku hanya tau bahwa yang rugi adalah aku. Dengan begini yang kusakiti bukan hanya aku melainkan dia juga.

Tidak berani hanya dengan menatap punggungnya aku menunduk. Tapi aku tau tak ada gerakan pasti yang dilakukannya sebelum aku menjawab pernyataannya. Tapi ini sulit, antara bohong dan jujur terlalu sering kuhadapi dan berakhir dengan kebohongan.

“Aku? Sama denganmu?” nada bicara itu nada yang ingin kusembunyikan. Jahat sekali, berbohong dengan sangat lugas dan aku akhirnya kesakitan sendiri. “Coba kau pikirkan lagi apa yang kau maksud itu.”

Dengan kalimat akhir itu langkahnya berlanjut dan aku baru berani menatap kepergiannya. Sakit. Bahkan punggungnya yang luar biasa indah itu terasa sangat mengacaukan hati. Terdiam kaku sampai akhirnya ia muncul lagi dengan cengiran bodohnya.

“Benar seperti itu?”

Aku tau ia tidak percaya dengan kata-kataku. Aku menarik nafas kemudian mengembuskannya, berusaha untuk normal. “Ya!” dan tidak tau kenapa aku menggunakan nada tinggi.

“Bohong! Kau menyukaiku seperti aku menyukaimu!”

Oh bahkan seorang laki-laki yang tenang, tampan, dan luar biasa indah dapat mengatakan hal terang-terangan yang bodoh seperti itu? Menahan tawa aku hanya bertampang kesal. “Tidak!”

“Iya!” jawabannya terlalu cepat sekali.

“Memangnya aku termasuk idolamu yang menyukaimu karena terpukau dengan suara indah dan kehebatan menarimu?”

Pertanyaanku membuatnya menyeringai lebar. Mati aku. “Tentu tidak, kau menyukaiku karena aku unik dan lucu dan menyebalkan dan menarik di pemikiranmu.”

Oh Tuhan, aku benci mengakuinya tapi itu benar. Ia sangat egois. Sangat-sangat. Harusnya kalau ia tau aku menyukainya pergi dan beri aku waktu untuk mempersiapkan perasaan ini. Bukannya datang dan menuntutku untuk mengakui menyukainya.

“Tidak!” aku sedikit berteriak, “Kalau aku mau menyukai seseorang tentu aku memilihnya. Aku jauh memilih Yunho yang tampan, berkarisma, manly, baik hati, dan segala-galanya dibanding kau yang hanya bisa tersenyum senang dikelilingi gadis-gadis idiot!”

Ia membuka mulutnya sedikit, tapi kemudian menutupnya. Berpikir sesaat lalu ia kembali membuka mulutnya, “Yunho kan bukan tipe-mu.”

Lagi-lagi aku mati. Benar-benar menyebalkan, “Ya ya! Dia bukan tipe aku, tapi kau juga bukan tipe aku!”

Ku lihat ia mendengus. Sepertinya ia sangat lelah. Tapi ini menyenangkan. Aku tidak mau jujur dengan perasaanku karena aku tidak ingin menyukainya. Tapi aku tak suka berbohong tentang perasaan karena rasanya menyakitkan.

Ia menatapku lengkap dengan matanya yang besar sebelah, “Biar saja, kalau tak jujur kau sendiri yang sakit.”

“Kau juga!”

“Kenapa aku juga?” tanyanya bodoh.

Aku hanya menyeringai, “Kau kan menyukaiku.”

Awalnya diam sesaat, wajah seriusnya terlihat dan ia benar-benar… tampan. Ah tidak, itu pertama kalinya aku berkata ia tampan! Tidak, tidak.

“Oh…” Akhirnya ia berkata. Aku siap dengan sombongnya bertampang hebat menyadari hal itu terlebih dahulu. Dan niat menyombongkan diri itu punah setelah ia berkata, “Aku bisa mencari wanita lain yang bisa aku cintai tidak dalam cinta sepihak.”

Mendengarnya menekankan pada kata cinta sepihak membuat aku menggeram sambil menatapnya dengan amarah.

“Eh, maksudku aku bisa mencari wanita lain yang aku cinta dan yang jujur dengan perasaannya kalau ia menyukaiku, bahkan mencintaiku.” Pembenaran kalimat dengan segala penekatan kata dimana-mana membuat aku semakin kesal, aku membalikan badan dan menunduk.

Ia pasti tersenyum senang.

“Memangnya salah kalau aku tidak mengaku aku menyukaimu?” aku tidak menginginkan untuk mengatakan itu tapi bibir ini terlalu bodoh. Sangat bodoh. “Aku punya alasan untuk itu..”

“Kau memang orang terbodoh sedunia.” Nadanya sangat mengejek, aku hanya mengembuskan nafas tanpa berusaha menatap wajahnya.

“Memangnya kenapa kalau aku bodoh?!” Membalikan badan, lalu melihatnya dengan tatapan seperti itu aku… “Aku pernah bilang aku tidak suka dengan idola!”

“Aku juga tidak suka dengan gadis terlampau biasa yang menyebalkan dan jelek!” ia ikut-ikutan emosi, menyebalkan sekali… tapi kemudian rahangnya melembut dan ia tersenyum kaku, “Tapi bagaimana jika perasaan tak bisa ditebak dan aku jatuh cinta dengan gadis seperti itu?”

Jika saja aku bukan aku, mungkin mendengar itu akan membuatku luluh. Matanya benar-benar suatu hal yang tak dapat aku jelaskan. Kalau begini, bagaimana mungkin aku tidak jatuh cinta padanya?

Saat itu diam beberapa detik tapi rasanya sama seperti ribuan menit. Aku menunduk dan tak berani menatap matanya. Kalau saja aku menatapnya lagi mungkin saja air mataku akan turun tak terkendali.

“Maaf..” mungkin hanya kata itu yang dapat aku katakan. Bodoh, tapi aku membalikan badan dan berniat meninggalkan tempat itu dengan dirinya. Aku punya alasan yang sangat kuat mengapa aku tidak ingin menyukai seorang idola seperti dia. Jangan disini jika aku hanya akan berpikir dua kali dan lagi-lagi jatuh kepadanya.

Tapi kemudian langkahnya mendekatiku tanpa aku perlu membalikan badan untuk melihat. Tubuhku tiba-tiba menegang saat tubuhnya memelukku dari belakang. “Aku tidak terima kau menelantarkanku dengan perasaan sia-sia meski tau kau memiliki perasaan yang sama..”

Aku hanya diam. Kenapa harus seperti ini? Kenapa ia terdengar meminta?

“Ya, babo! Kau pikir hanya kamu yang memikirkan buruknya dari ini semua? Saat itu kan kita bersama, jadi semua akan dilalui bersama-sama.” Ia berbicara tepat ditelingaku.

Aku menoleh sedikit ke kiri dan saat itu jarak antara bibirku dengan bibirnya sangat dekat. Aku memejamkan mata sebentar, “Baiklah, aku menyukaimu, tidak, aku mencintaimu.”

Semua itu seperti mimpi. Ketika aku tak ingin mengatakannya, ada yang mendorongku untuk bicara seperti itu. Dan ketika bibirnya mengecup halus bibirku yang seakan mantra baru untuk kekuatan yang ia berikan. Mulai saat ini aku tidak akan pernah berbohong tentang perasaan lagi. Meski terlalu banyak alasan untuk itu.

“Changmin…” itu aneh saat aku menyebut namanya dan ia menoleh dengan senyum bodohnya. Tapi aku senang dapat memanggilnya dengan sesuka hati. “Changmin Changmin Changmin Changmin Changmin Changmin Changmin Changmin…Chang—“

FIN

About Han

My world and days. People beside me. Precious family. You. That's I loved. JYH's ♥

Posted on May 19, 2012, in fanfic and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: